
Sementara itu, salah satu penulis buku, Dadan Wildan, menjelaskan, buku Jakarta 1998 disusun antara lain untuk menjembatani pengetahuan sejarah bagi generasi yang lahir setelah 1998 dan tidak mengalami langsung berbagai peristiwa pada masa tersebut.
Ia mengatakan, pemilihan judul buku didasarkan pada sejumlah momentum penting yang terjadi pada 1998, mulai dari krisis ekonomi, Tragedi Trisakti, hingga mundurnya Presiden Soeharto. Peristiwa tersebut dinilai perlu dikaji dan didokumentasikan dalam bentuk buku agar pengetahuan mengenai sejarah tetap dapat ditransmisikan kepada generasi berikutnya.
“Menjadi penting bagi generasi yang tidak mengalami peristiwa 1998 untuk mengetahui apa yang terjadi sebagai bagian dari transmisi pengetahuan, sehingga kesadaran sejarah dapat terbentuk dan menjadi refleksi,” tuturnya.
Perspektif lain disampaikan penulis buku Ely Malihah yang menyoroti perubahan sosial yang terjadi pada 1998. Menurutnya, krisis yang berlangsung ketika itu tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memicu disintegrasi sosial yang ditandai dengan berbagai kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan.
Di tengah kondisi tersebut, muncul kesadaran kolektif mahasiswa untuk melakukan aksi dan menyampaikan aspirasi di berbagai daerah, termasuk Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Tragedi Trisakti kemudian semakin memperkuat kemarahan publik hingga gerakan mahasiswa berkembang menjadi salah satu kekuatan penting yang mendorong perubahan politik dan berujung pada berakhirnya pemerintahan Orde Baru.
Berbagai perspektif yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah dapat dipahami melalui beragam sudut pandang keilmuan. Kajian mengenai 1998 tidak hanya berbicara tentang perubahan politik, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi, kehidupan sosial, gerakan mahasiswa, pendidikan, serta perubahan hubungan antara masyarakat dan negara.
Dengan demikian, buku dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas sebuah peristiwa sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Budaya membaca dan berdiskusi pun menjadi semakin penting agar generasi muda tidak hanya menerima informasi, tetapi mampu menguji, memahami, dan mengolahnya menjadi pengetahuan.
Kegiatan Bedah Buku Jakarta 1998 dilaksanakan secara hibrida dan diikuti tidak kurang dari 150 mahasiswa yang memenuhi Auditorium FPIPS UPI, serta peserta lainnya secara daring. Melalui forum tersebut, UPI memperkuat perannya sebagai ruang akademik yang mendorong dialog, refleksi, dan pertukaran pengetahuan.
Kehadiran Wamendikdasmen Atip Latipulhayat sekaligus memberikan dukungan terhadap berbagai upaya perguruan tinggi dalam memperkuat budaya akademik dan literasi.
Pada kesempatan tersebut, Wamendikdasmen secara resmi membuka kegiatan sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada para penulis buku, Dadan Wildan dan Siti Komariah.(SP)



















