
TANAH DATAR – Ziarah ke makam ulama di Bukit Tubasi (Bukit Batu Basi), di Jorong Padang Luar, Nagari III Koto (Tigo Koto), Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kini menjadi salah satu agenda rutin guru-guru dan santri Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek.
Perjalanan menuju makam ulama, yang tidak diketahui lagi namanya, itu bukanlah perjalanan biasa. Dari Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, rombongan harus menempuh perjalanan, sekitar lima kilometer menuju kaki bukit. Ini bisa ditempuh dengan mobil.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, mendaki bukit selama kurang lebih dua jam, hingga mencapai puncak.
Di sanalah, di tengah suasana alam yang masih asri, terdapat sebuah makam ulama zaman dahulu. Makam tersebut menjadi saksi bisu keberadaan seorang ulama, yang pernah hidup dan mengabdikan dirinya, untuk agama di kawasan tersebut.
Menariknya, keberadaan makam itu belum banyak diketahui masyarakat. Hanya beberapa warga yang tinggal di sekitar jalan menuju pangkal pendakian bukit itu, yang mengetahui keberadaan makam tersebut.
Guru Besar Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Buya H. Jakfar Tuanku Imam Mudo, mengetahui keberadaan makam ulama tersebut dari pendahulunya, almarhum Tuanku Anwar Sutan Marajo.
Sejak mengetahuinya, Buya Jakfar beberapa kali melakukan perjalanan ke puncak Bukit Batu Basi. Hingga kini, dia telah empat kali mendaki bukit tersebut.
Pendakian itu dilakukannya, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Sesampainya di makam, Buya Jakfar bersama rombongan membaca kitab Sarapal Anam, sebagai bagian dari kegiatan, mengenang dan mendoakan ulama, yang dimakamkan di tempat tersebut.
“Ziarah ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi guru dan santri. Kita mengenang ulama-ulama terdahulu dan mengambil semangat perjuangan beliau, dalam menuntut serta mengajarkan ilmu agama,” kata Buya Jakfar di puncak bukit itu, Ahad, (27/9/26).
Bagi guru-guru Darul Ulum, perjalanan menuju puncak Bukit Batu Besi juga memberikan pengalaman tersendiri. Meski harus berjalan sekitar dua jam, pendakian dapat dilakukan dengan berjalan kaki tanpa menggunakan alat bantu.
Jalan setapak yang dibuat dan dirawat masyarakat setempat, sangat membantu para peziarah. Jalur tersebut menjadi akses penting bagi guru dan santri, untuk mencapai makam yang berada di puncak bukit.
Rasa lelah selama perjalanan seakan terbayar ketika sampai di puncak. Suasana yang tenang dan jauh dari keramaian membuat para guru dan santri merasa nyaman.
Di tempat itu, mereka tidak hanya berziarah, tetapi juga merenungkan kembali, perjalanan panjang para ulama dalam menyebarkan ilmu dan agama.
Ziarah ke makam ulama di Bukit Batu Basi bukan sekadar kegiatan mendaki bukit. Ia menjadi perjalanan spiritual sekaligus perjalanan mengenang sejarah yang nyaris terlupakan.
Di balik sebuah makam yang bahkan tidak lagi diketahui nama penghuninya, tersimpan pesan penting bagi generasi sekarang: bahwa ilmu, perjuangan, dan pengabdian para ulama terdahulu patut terus dikenang.
Dan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, perjalanan ke puncak Bukit Batu Basi itu diharapkan tetap menjadi agenda rutin.
Tujuannya menapaki jalan setapak, mengenang ulama terdahulu, membaca ayat-ayat dan kitab keagamaan, serta menanamkan kecintaan, kepada ilmu dan perjuangan para pendahulu kepada para santri.(AS)


















