Abdul Mu’ti: “Keteladanan Guru Menjadi Kunci Budaya Sekolah Aman dan Nyaman”

Berita Nasional2348 Dilihat

Ia menambahkan, keberhasilan pendidikan memerlukan dukungan yang melampaui lingkungan sekolah. “Keberhasilan guru dalam mendidik tidak lepas dari dukungan dan kerja sama masyarakat dan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” katanya.

Menurut Matius, dalam lima tahun terakhir, program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dijalankan Institut Leimena bersama puluhan lembaga mitra berbagai agama telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik lainnya dari 38 provinsi.

Chief of Education UNESCO Jakarta, Santosh Khatri, mengingatkan lingkungan belajar yang mendukung murid memerlukan lingkungan profesional yang juga mendukung guru.

Ia menilai budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan bagian dari pengalaman belajar itu sendiri, tempat murid mengembangkan empati dan kemampuan hidup bersama.

Khatri menjelaskan, kecerdasan buatan dapat membantu perencanaan pembelajaran dan pengembangan profesional. Guru tetap memiliki peran manusiawi untuk memahami kondisi murid, mengenali kesulitan yang belum mereka ungkapkan, serta membantu mereka belajar mendengarkan dan menghormati orang lain.

Belajar Hidup Bersama melalui Perjumpaan Lintas Agama Pengalaman penerapan di sekolah dibagikan Yonathan Djalimun, alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan terbatasnya ruang interaksi dengan perbedaan di lingkungan pendidikan berbasis agama yang cenderung homogen.

Yonathan membagikan pengalaman kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman dan kunjungan persahabatan lintas agama. Dokumentasi dalam paparannya memperlihatkan kunjungan murid SMA Tritunggal Semarang ke MA Al Manar Tengaran serta perjumpaan di Pondok Pesantren Amal Sholeh. Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan menghargai perbedaan.

“Praktik lebih membekas ketimbang sekadar teori di kelas,” tulis Yonathan dalam paparannya.

Ia menggambarkan kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan dari tahun ke tahun, dengan jaringan kerja sama dan kesempatan berinteraksi yang semakin luas. Dalam refleksinya, ia menulis, “Siswa merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam kolaborasi lintas agama.”

Webinar bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” tersebut mempertemukan perspektif kebijakan, pengalaman pendidik, dan pandangan internasional mengenai pendidikan dalam keberagaman.

Kegiatan ini didukung oleh Templeton Religion Trust dan berlangsung melalui Zoom dengan penerjemahan simultan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.(SP)

Blibli.com
Blibli.com