Konsep Berkah Komunal; Muhammadiyah Struktural Cerminan Muhammadiyah Kultural

Berita Opini217 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Pernah menjumpai kasus memalukan, anggaran pembangunan TK ABA ditilep oknum dan bangunan mangkrak? Nihil. Sulit menjumpai kasus demikian.

Pernah menjumpai kasus memalukan, anggaran pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah ditilep oknum dan bangunan mangkrak? Juga nihil. Sulit menjumpai kasus demikian.

Berapa kali anda berjumpa hal memalukan, anggaran pembangunan SMP/SMA Muhammadiyah menguap karena ulah oknum? Bakalan nihil. Insyaallah sulit menjumpai kasus demikian di level massif.

Juga anda tidak pernah menjumpai kasus memalukan anggaran pembangunan Gedung Serba Guna Muhammadiyah menguap karena oknum.

Yang pasti, tetap ada oknum nakal di manapun. Satu dua oknum memalukan mungkin tetaplah ada di Muhammadiyah, tetapi tidak menjadi penyakit menular. Satu dua mal-administrasi itu tetap ada di Muhammadiyah, tapi tidak membudaya.

Saya belum lama terpikirkan hal itu. Baru-baru saja. Tentu berbasis dalil Al Quran . Surat Al An’am 129 mengilhami saya berprasangka. Kuncinya, penguasa dipengaruhi kualitas warga. Akuntabilitas government disebabkan oleh ketertiban para citizen. Dan untuk diketahui, leadership struktural Muhammadiyah cermin kesalehan sosial akar rumput masyarakat Muhammadiyah se-Indonesia.

Inilah berkah komunal, bukan berkah personal. Eksistensi TK ABA bukan berkah dari Ustadz A atau B, melainkan berkah dari komunitas setempat. Eksistensi PKU Muhamadiyah Kabupaten bukan berkah dari Ustadz B atau C. Tapi berkah dari warga Muhammadiyah satu kabupaten.

Akuntabilitas Universitas Muhammadiyah di Provinsi tertentu, bukan berkah Ustadz C atau D . Melainkan berkah dari civitas akademika yang jumlahnya, unlimited.

Sampailah pada gongnya. Keindahan struktural PP Muhammadiyah dalam mengayunkan kebijakan publik adalah berasal dari feedback akuntabilitas akar rumput masyarakat Muhammadiyah satu negara.

Insyaallah tak ada INDONESIA BUBAR, jika ada berkah komunal. Indonesia butuh komunitas Salafi Wahabi untuk mencetak kesalehan komunal. Indonesia butuh effort dari komunitas MTA Solo untuk mencetak kesejukan komunal. Indonesia butuh sumbangsih PERSIS untuk mengkondisikan soliditas komunal.

Kita berharap pesantren HIDAYATULLAH menjadi gudang penghasilan kesejukan Indonesia. Juga pada jutaan followers tarekat di NU adalah soko guru penyelamat Sabang sampai Merauke. Tak lupa, jutaan followers aqidah bercorak Asy’ariyah adalah penjaga nikmat Allah yang ada di perut bumi Indonesia. Dan, doa-doa anak yatim piatu satu negeri adalah alat pancing rahmat Allah.

Kesimpulannya, penulis berharap, semoga tulisan ini bisa menyatukan hati komunitas puritan Indonesia dengan komunitas tradisional. Salafi Wahabi, MTA SOLO, PERSIS, HIDAYATULLAH, AL IRSYAD dan Muhammadiyah, berpelukan dengan jamaah NU. Aamiin, aamiin, aamiin. (*)

Penulis: Wawan Rongkop

Blibli.com
Blibli.com