Literasi Era AI: Sebuah Tantangan yang Semakin Kompleks

Literasi4517 Dilihat

JAKARTA – Di tengah derasnya informasi dan kemudahan teknologi kecerdasan buatan (AI), makna literasi pun bergerak lebih jauh dari kemampuan membaca dan menulis.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen Ganjar Harimansyah mengatakan, aksara memperoleh makna ketika manusia mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan.

“Ketika kita membaca, sebenarnya kita sedang menghimpun huruf-huruf yang berserakan menjadi bermakna. Kemudian kita memahami bagaimana kata itu dimaknai, dan lalu diimplementasikan,” ujarnya.

Bagi Ganjar, proses tersebut membuat literasi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan membaca berkembang menjadi kemampuan memahami makna, menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman, lalu mengambil tindakan.

“Perubahan terjadi ketika buku dibaca, dibicarakan, dan dihidupkan,” tuturnya.

Tantangan tersebut semakin besar ketika informasi datang tanpa henti. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen, Rahmawati, mengatakan pembaca perlu mampu melampaui informasi yang tersurat. Mereka perlu menginterpretasi, mengintegrasikan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi sebelum menggunakannya.

“Bukan tentang setuju-tidak setujunya, tetapi tentang bagaimana kita mampu berliterasi, kita paham betul isi bacaannya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, kemudian kita mampu mengevaluasi isi bacaannya, dan kita mampu merefleksikannya dengan kehidupan di dunia nyata,” ujarnya.

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa, melihat tantangan itu semakin kompleks di ruang digital. Ketika semua orang dapat membuat dan menyebarkan informasi, kemampuan memeriksa informasi menjadi bekal penting.

“Masyarakat bukan hanya perlu mampu bertanya, apa isi informasi ini? Tapi juga harus bisa mempertanyakan, siapa yang membuatnya? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Apakah dapat diverifikasi?” ujarnya.

Tiga perspektif tersebut bermuara pada satu gagasan bahwa literasi bukan aktivitas yang selesai ketika halaman terakhir buku ditutup. Literasi hidup ketika pengetahuan menemani manusia memahami dunia, memilah informasi, mengambil keputusan, dan bertindak.

Di era AI, kemampuan itu semakin penting. Sebab, ketika informasi dapat dibuat dalam hitungan detik, manusia tetap membutuhkan waktu untuk memahami makna dan menentukan apa yang layak dipercaya.

Pada akhirnya, masyarakat yang literat bukan hanya masyarakat yang gemar membaca, melainkan masyarakat yang terus belajar dan mampu menghidupkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. (SP)

Blibli.com
Blibli.com