Kemendikdasmen: 55 Ribuan Sekolah Diperbaiki, Anak Indonesia Dapatkan Ruang Belajar Layak

Berita Nasional4571 Dilihat

JAKARTA – Kemendikdasmen memperkuat fondasi pendidikan melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, serta penguatan karakter.

Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan setiap murid, termasuk yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta murid berkebutuhan khusus, memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.

“Pak Presiden berkali-kali menyampaikan tidak boleh ada sekolah yang atapnya roboh, tidak boleh ada yang toiletnya kotor, tidak boleh ada kelas yang rusak dan sebagainya,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam program One on One tvOne, Jumat (30/10) lalu.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemendikdasmen telah merevitalisasi lebih dari 55.000 satuan pendidikan dalam dua tahun pertama. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi hampir 80.000 satuan pendidikan hingga akhir 2026.

Revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah dengan kerusakan berat, sekolah di wilayah 3T, serta satuan pendidikan yang terdampak bencana. Bagi anak-anak di daerah terdampak bencana Sumatra, misalnya, pemulihan fasilitas pendidikan turut mendukung keberlangsungan pembelajaran.

Mendikdasmen menyampaikan, 98 persen sekolah terdampak di wilayah tersebut telah dibangun kembali dan seluruhnya sudah melaksanakan pembelajaran secara normal, meskipun sebagian masih menerapkan sistem pergantian waktu belajar.

Selain perbaikan infrastruktur, pemerintah memperluas pemanfaatan teknologi agar pembelajaran semakin interaktif dan dapat menjangkau lebih banyak murid.

Sepanjang 2025, lebih dari 288.865 papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) telah dikirimkan ke satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Pada 2026, pemerintah menargetkan distribusi lebih dari 700.000 perangkat tambahan sehingga totalnya melampaui satu juta perangkat dalam dua tahun.

Menteri Mu’ti menegaskan, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Program digitalisasi itu paketnya ada empat. Pertama tentu saja adalah perangkatnya, yang kedua adalah laptop, yang ketiga yaitu pelatihan guru, dan yang keempat adalah fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan juga materi pembelajarannya,” jelasnya.

Manfaat digitalisasi juga terlihat dalam terbukanya kesempatan belajar bagi murid berkebutuhan khusus.

Berdasarkan pemantauan Abdul Mu’ti di sejumlah sekolah, fitur audio pada IFP dapat membantu murid tunanetra mengikuti pembelajaran, sementara guru di sekolah luar biasa di Kudus telah mengembangkan materi berbantuan kecerdasan artifisial (AI) untuk murid tunarungu.

Perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium virtual untuk membantu murid memahami konsep sains melalui simulasi.

Blibli.com
Blibli.com