Batik Lasem jadi Laboratorium AI bagi Murid SMK Negeri 1 Rembang

Teknologi2237 Dilihat

REMBANG – Bagaimana jika selembar Batik Lasem bisa mengajarkan murid cara kerja kecerdasan artifisial? Pertanyaan inilah yang dijawab Anisa Rahmanti, guru, melalui inovasi pembelajaran TILAS (TinyML-based Identification of Lasem Batik Motifs).

Di kelas Anisa, murid tidak hanya menggunakan aplikasi kecerdasan artifisial untuk menghasilkan gambar atau mencari informasi. Mereka justru belajar membangun sistem yang mampu mengenali motif Batik Lasem. Mulai dari memotret kain batik, mengelompokkan gambar, memberi label data, melatih model, hingga menguji hasil prediksi, seluruh proses dilakukan secara langsung oleh murid.

Ide ini berangkat dari kegelisahan Anisa melihat kecenderungan murid yang semakin akrab menggunakan teknologi AI, tetapi belum memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja.

Ia ingin pembelajaran AI tidak berhenti pada keterampilan menggunakan aplikasi, melainkan memberi pengalaman kepada murid untuk memahami sekaligus membangun teknologi.

Anisa kemudian memilih Batik Tulis Lasem sebagai sumber belajar. Warisan budaya khas pesisir utara Jawa ini memiliki kekayaan motif yang lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Motif seperti Latohan, Burung Hong, Sekar Jagad, Gunung Ringgit, dan Watu Pecah menjadi objek nyata bagi murid untuk mempelajari cara komputer mengenali pola visual.

Melalui TILAS, sebanyak 108 murid mengikuti proses pengembangan sistem berbasis TinyML. Model kecerdasan artifisial yang mereka latih kemudian dijalankan pada perangkat ESP32-CAM, sebuah mikrokontroler berukuran kecil yang dilengkapi kamera.

Menariknya, sistem ini dapat mengenali motif Batik Lasem dengan tingkat ketepatan sekitar 90 persen tanpa memerlukan koneksi internet.

Dalam prosesnya, murid menemukan bahwa teknologi tidak selalu memberikan jawaban yang benar. Foto yang terlalu gelap atau kesalahan memberi label data dapat memengaruhi hasil prediksi.

Mereka pun belajar menguji, mengevaluasi, dan memperbaiki model. Kesalahan bukan lagi sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari proses belajar dan menemukan solusi.

Pengalaman ini menghadirkan pembelajaran yang kontekstual yakni konsep teknologi terasa dekat dengan kehidupan murid. Di sisi lain, budaya daerah semakin dikenal dan diapresiasi. Murid tidak hanya memahami cara kerja AI, tetapi juga belajar berpikir kritis, teliti, kreatif, dan kolaboratif.

Bagi Anisa, TILAS menunjukkan bahwa budaya lokal dan kemajuan teknologi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling menguatkan. Batik Lasem tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga sumber inspirasi untuk menciptakan inovasi.

Dari ruang kelas di Rembang, Anisa ingin menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki kekayaan lokal yang dapat menjadi pintu masuk pembelajaran sains dan teknologi.

Sebab, generasi masa depan tidak cukup hanya mahir menggunakan teknologi. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk menciptakannya, tanpa kehilangan jejak budaya yang membentuk identitasnya.(SP)

Blibli.com
Blibli.com