
Sekolah hendaknya menjadi tempat yang baik dan ideal untuk menanamkan pengetahuan dan etika ekologis/etika lingkungan. Etika ekologis tersebut merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya; sehingga setiap kegiatan/tindakan yang berkaitan dengan lingkungan, dipertimbangkan dengan cermat supaya keseimbangan/kelestarian lingkungan tetap terjaga.
Sekolah adiwiyata selanjutnya menjadi agen perubahan pola piker atau cara pandang terhadap lingkungan sekitar, bahwa lingkungan adalah juga subjek/makhluk yang perlu dihargai (pandangan organis); bukannya sebagai objek penderita yang hanya menjadi pemuas kebutuhan manusia (pandangan mekanistik).
Tentunya untuk menunjang sekolah adiwiyata, diperlukan kebijakan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan, pengembangan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan berbasis partisipatif, serta pengelolaan dan pengembangan sarana pendukung sekolah; dengan mengusung prinsip partisipatif dan berkelanjutan.
Partisipatif maksudnya komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tugas/tanggung jawab. Sementara berkelanjutan berarti seluruh kegiatan dilakukan secara terencana dan berkesinambungan (terus-menerus). Maksud mulia tersebut tentunya membutuhkan dukungan dan kerja sama berbagai pihak, khususnya komponen-komponen sekolah.
Dengan adanya kerja sama, perlahan namun pasti program sekolah adiwiyata akan membidani lahirnya insan-insan pencinta alam yang ramah lingkungan. Hal ini akan tercipta jika dimulai dari perubahan pola pikir atau cara pandang terhadap alam/lingkungan.
Warga sekolah adiwiyata tentunya melihat alam sebagai sesama makhluk atau sebagai subjek yang perlu dihargai dan dicintai dan bukan sekadar alat pemuas kebutuhan manusia. Atau dalam konteks filsafat barat kuno, alam menjadi pusat ketakjupan yang mempesona dan karena itu patut dicintai.
Perubahan pola pikir atau cara pandang terhadap alam adalah conditie sine qua non (kondisi yang mutlak diperlukan) untuk menjadi sekolah adiwiyata. Mengulang apa yang dikatakan Herakleitos pada awal tulisan ini, tidak ada yang abadi selain perubahan.
Perubahan itu terjadi kalau ada kesadaran bahwa perubahan itu perlu. Mari kita coba, mulai dari sekolah kita masing-masing, menuju masyarakat luas. Masa depan bumi ada di tangan kita yang hidup di masa kini. (*)
Penulis: Zakarias Surat, S. Fil (Guru SMAN Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung-Tideng Pale, Kab. Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara



















