
“Kita juga melibatkan alumni dan para pendukung dari Ditjen Vokasi. Intinya akan melibatkan pakar sesuai bidangnya,” urainya.
Pada kesempatan yang sama, lulusan program Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada yang juga CEO Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya, mengatakan insan-insan vokasi memerlukan keuletan dan kecepatan untuk beradaptasi. Dua hal tersebut menjadi kunci bagi insan vokasi, terutama saat menghadapi krisis seperti selama pandemi Covid-19.
Menurutnya, berada di industri kreatif yang selalu tumbuh harus adaptif terhadap keadaan dan ilmu-ilmu baru. “Sebagai lulusan pendidikan vokasi, saya menilai kehadiran program-program beasiswa, termasuk Bridging Course Vokasi, sebagai kesempatan yang bagus,” ucapnya.
Ia menambahkan, dahulu banyak insan vokasi, termasuk dirinya, tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Selain itu, pola pikir insan vokasi sebatas melanjutkan studi ke tingkat S1 setelah D3.
Kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi kendala bagi insan vokasi untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Oleh karena, Afidha menilai Program Bridging Course Vokasi sangat penting bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
“Sekarang sudah bagus. Pemerintah dan lembaga pendidikan memberikan fasilitas. Kita harus manfaatkan, harus upgrade diri. Pendidikan adalah cara kita untuk upgrade mengikuti perkembangan karena jika tidak, kita akan tertinggal. Itu harus jadi mindset kita,” tuturnya.
Senada dengan itu, CEO Nectico, Nur Khairusy Syakirin, yang akrab disapa Rusy ini menuturkan, kemampuan berkomunikasi akan sangat menentukan karier maupun studi lanjutan bagi insan vokasi. Ia mengatakan bahwa studi lanjutan yang pernah dijalaninya di Amerika Serikat dan Prancis sangat bergantung pada kemampuan berkomunikasi.
“Kemampuan tersebut berguna untuk mengemukakan ide dan menunjang pembelajarannya,” ujar alumnus penerima beasiswa dari LPDP di Hult International Business School tersebut.
Rusy menambahkan, komunikasi menjadi satu dari tiga kunci bagi kesuksesan insan vokasi dalam menjalankan studi di luar negeri. Kunci kedua adalah kemampuan untuk membangun jejaring, karena dari hal tersebut insan vokasi bisa mendapatkan kesempatan yang lebih luas dan tepat. Kunci ketiga adalah kemauan untuk belajar dan terus mengasah diri.
Insan vokasi menurut Rusy memiliki potensi besar untuk memasuki industri, termasuk digital dan koperasi. Menurut Rusy, sumber daya manusia vokasi masih jadi salah satu tantangan di industri koperasi. Penyerapan industri koperasi terhadap insan vokasi masih kurang, meski sangat membutuhkan.
“Vokasi jelas memiliki potensi yang luar biasa, karena koperasi fokus pada pengembangan ekonomi kerakyatan. Mudah-mudahan insan vokasi bisa tertarik kepada koperasi dan itu misi dari Nectico, supaya koperasi bisa lebih dekat dengan dunia kerja. Kita sangat butuh orang-orang hebat vokasi yang bisa bersama-sama membangun ekonomi kerakyatan lewat koperasi,” imbaunya. (sumber: kemdikbudgoid)



















