oleh

Pendidikan Indonesia Ada di Tangan Guru, Berinovasi dan Kreatiflah!

WPdotCOM – Hari Guru, diperingati secara nasional setiap tanggal 25 Nopember. Peringatan yang harus dimaknai dengan sesuatu yang lebih positif, bukan sekadar berbagi bunga, bukan pula hanya makan bersama.

Sejak pandemi Covid-19 menyerang setiap sendi kehidupan masyarakat global, dunia pendidikan Indonesia hampir saja ambruk. Pembelajaran daring menjadi pilihan, di saat mana hal itu baru pertama kali dijalankan oleh para pendidik di negeri ini.

Banyak guru yang menyatakan lelah, bahkan dengan alasan siswa telah rindu bertemu dan belajar di kelas tatap muka, berupaya menyuarakan kembalinya pembelajaran seperti semula. Benarkah metode daring menjemukan? Tentu saja tidak. Karena pola dan sistem pendidikan harus diramu dengan beragam motede.

Tidakkah kita sadari bahwa metode tatap muka juga menjemukan bagi siswa ketika guru hanya bisa memberi tugas, menyalin buku sumber, dan kadang mungkin pernah melihat guru di depan kelas bermain gadget? Semua bisa sama-sama menjemukan, membuat jenuh dan tidak menghasilkan kualitas pembelajaran yang diharapkan.

Di hari guru ini, semua orang berharap pendidik generasi bangsa tampil dengan ‘gagah’ dan menjanjikan perbaikan. Jaminan kualitas generasi ada di tangan pendidik, bukan hanya pengetahuan tapi juga pembinaan karakter yang menjadi unsur utama terciptanya manusia seutuhnya, sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Untuk menghasilkan kualitas generasi, guru di zaman ini harus lebih kreatif. Kreativitas adalah orisinalitas, artinya bahwa produk, proses, atau personnya, mampu menciptakan sesuatu yang belum diciptakan oleh orang lain. Kreativitas juga dapat dispesifikkan dalam dunia pendidikan, yang disebut oleh Torrance dan Goff (1990) sebagai kreativitas akademik (academic creativity).

Kreativitas akademik ini menjelaskan cara berpikir guru dalam mendidik dan memproduksi informasi. Sehingga dalam prosesnya, munculnya penalaran (thinking), kecakapan (skills), dan motivasi (motivation) akan berkembang secara berimbang dalam diri seorang siswa.

Baca Juga:  Disambut Hujan di Negeri Lansek Manih

Begitu pula dengan kemampuan inovasi, bagi guru adalah kewajiban bila tidak ingin semua aktivitas mengajar yang diampunya runtuh dan sampai menyentuh titik membosankan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi dipahami sebagai penemuan baru yang berbeda dari yang telah ada, atau yang suah dikenal sebelumnya, misalnya berupa gagasan, metode dan alat. Inovasi adalah sebuah ide, yang mengintrodusir suatu gagasan baru.

Jadi, antara kreativitas dan dan inovasi, memiliki titik singgung yang sedemikian rupa akan menjadi bukti kepiawaian seorang guru sebagai pendidik dalam mengampu tugas-tugas mulianya. Semakin piawai seorang guru dalam memainkan perannya sebagai sosok yang terampil memainkan kreativitas dan inovasi, dapat dipastikan perubahan mendasar bagi pengembangan kualitas peserta didiknya akan terlihat dengan jelas.

Mencermati tema HGN 2021 yang diterbitkan Kemendikbudristek, ‘Bergerak dengan Hati Pulihkan Pendidikan’ adalah jargon yang memiliki kedalaman makna. Mendidik, menjadi guru, adalah tanggungjawab mulia yang diembankan kepada setiap pendidik. Bergerak dengan hati, frase yang dinisbahkan pada kekuatan jatidiri guru, bukan hanya persoalan kecerdasan untuk mengtransformasi pengetahuan semata.

Lebih jauh dari itu, bergerak dengan hati adalah sebuah tuntunan bahwa semua pendidik harus jujur pada dirinya, tentang kompetensi, tentang kesiapan untuk terus berkembang dan mengembangkan diri. Selamat Hari Guru Nasional 2021. Jayalah pendidikan menuju Indonesia Emas. (*)

Penulis: Nova Indra