
Dalam pembelajaran bahasa, penerapan kecakapan karakter dan kewarganegaraan dapat dilatih salah satunya melalui pemberian materi belajar yang faktual. Sebagai contoh, guru dapat memberikan teks sastra sebagai jembatan pengembangan karakter melalui proses menganalisis, mengkritisi, dan mendiskusikan naskah tersebut.
Dengan penambahan peran kecakapan tersebut, keenam kecakapan abad ke-21 kemudian dikenal dengan istilah 6C, yakni character (karakter), citizenship (kewarganegaraan), critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreatif), collaboration (kolaborasi), dan communication (komunikasi).
Salah satu ciri dari implementasi kecakapan 6C dalam pengajaran bahasa di abad ke-21 adalah munculnya aspek humanis dalam pendidikan, seperti pendidikan dan kurikulum yang berpusat pada nilai dan karakter, tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan materi mata pelajaran.
Webinar kemudian berlanjut dengan sesi berbagi praktik baik dari tiga guru bahasa Inggris, Mandarin, dan Prancis dalam implementasi kecakapan 6C di kelas bahasa. Ketiga guru tersebut sepakat bahwa pendekatan pengajaran perlu diubah menjadi berpusat pada siswa. Walaupun ada berbagai macam metode dan media pengajaran, guru bahasa perlu memperhatikan sumber belajar yang kontekstual dan relevan.
Melalui pembelajaran kontekstual, siswa diharapkan tidak hanya dapat belajar bahasa, tetapi juga belajar menggunakan bahasa yang dipelajarinya dengan lebih bermakna dan berkaitan dengan lingkungan sekitar.
Secara bersamaan, proses belajar tersebut turut terdorong siswa untuk menjadi warga negara yang humanis dalam masyarakat global abad ke-21.
Webinar “From 4Cs to 6Cs: What Should Teachers Know and Prepare for Successful Language Learning in the 21st Century” dapat ditonton ulang melalui kanal YouTube SEAMEO QITEP in Language. (sumber: kemdikbud)



















