
Ia menyatakan pikiran-pikiran para ulama perempuan sangat mencerahkan sehingga efektif untuk menyuarakan hak-hak perempuan, isu-isu kekerasan terhadap perempuan dan anak yang akhir-akhir ini mengemuka.
Lebih lanjut Syafi’i berharap pelibatan pimpinan PTKI dan PSGA untuk mensosialisasikan kegiatan ini agar memiliki dampak yang lebih besar, baik dalam lingkup akademik maupun masyarakat.
Koordinator Subdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Suwendi, menambahkan bahwa Konferensi PSGA akan mempertemukan para pekerja lapangan dengan para pegiat akademik. Mereka diharapkan dapat bertukar pengetahuan untuk menajamkan kerja-kerja lapangan dan atau sebaliknya.
Menurut Suwendi, ada empat rangkaian dalam konferensi PSGA. Pertama, Konferensi PSGA, terkait kontribusi ulama perempuan dan pencegahan kekerasan seksual dengan menghadirkan narasumber kompeten dan mengundang 100 panelis terpilih.
Kedua, pertemuan forum rektor PTKIN. Kegiatan ini berfungsi sebagai penguatan komitmen dan political will dalam penyelenggaraan pencegahan kekerasan seksual dan untuk mendapatkan masukan-masukan produktif dalam penguatan pengarusutamaan gender.
Ketiga, ajang pemilihan Perguruan Tinggi Responsif Gender atau PTRG Award, yang akan menilai PTKIN yang memiliki political will dan kondisi obyektif termasuk dalam dinamika akademisnya yang responsif gender.
Keempat, galeri PSGA. Yakni diseminasi produksi ilmu pengetahuan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan best practices terkait PSGA.
Informasi lebih lanjut terkait penyelenggaraan Konferensi PSGA, dapat diakses melalui http://kggs.radenfatah.ac.id/. (kemenag)



















