
Film ini, lanjut Elva, berusaha memberi pengertian kepada masyarakat bahwa untuk jangan terburu-buru menilai seseorang. Perlu dicari terlebih dahulu terkait karakternya dan tabiatnya.
“Kami berusaha memberikan pelajaran dalam film ini dengan mengangkat tema terorisme karena dalam Islam diajarkan terkait perdamaian, kita juga tidak boleh memihak satu sama lain atau berat sebelah. Jadi kita harus tawassuth (moderat),” katanya
Saat diwawancarai, Elva mengaku nilai-nilai moderasi beragama dan pencegahan terorisme telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Praktiknya dinaungi oleh organisasi siswa yang bernama rohis.
“Nilai-nilai moderasi beragama sudah diimplementasikan di SMA Negeri 2 Purwokerto. Ada beberapa organisasi dan ekskul yang sudah mengimplementasikannya, seperti halnya Rohis,” terangnya.
Lebih lanjut, Elva menerangkan, Rohis di sekolahnya sudah memiliki program kerja yang berkala, termasuk kegiatan untuk mencegah terorisme. “Saya tidak akan berhenti di sini saja. Saya akan menjadikan hal-hal yang sudah saya raih untuk pengembangan ke depannya agar bisa menjadi lebih baik lagi,” tegas Elva.
“Saya berharap untuk teman-teman terutama siswa SMAN 2 Purwokerto bisa meneruskan hal ini dan terkait perlombaan moderasi beragama ini bisa menjadikan kita pembelajaran agar semakin moderat,” pungkasnya. (kemenag)



















