
Namun penerapan grafena pada baterai kendaraan listrik dinilai malah akan menambah beban biaya produksi. Sebab, di tahun 2020 saja, 1 gram grafena masih dibandrol dengan harga 100 USD.
“AlGr01 adalah sel baterai dengan katoda grafena limbah PET dimana interaksinya dengan ion-Aluminium menjadikan AlGr01 baterai dengan biaya produksi termurah dan terbaik,” jelas Safira.
Substansi Polyethylene Terephtalate (PET) dipilih karena merupakan sumber karbon berupa limbah plastik dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. PET juga memiliki rantai alifatik yang baik sehingga menjadi sumber karbon yang baik untuk dilakukan depolimerisasi. Reaksinya dengan ion-Aluminium menjadikan AlGr01 memiliki spontanitas kelistrikan 3 kali lebih baik daripada Lithium, jumlahnya juga lebih melimpah, dan stabilitas isotopnya yang lebih baik.
“Dengan diwujudkannya AlGr01 pada sistem baterai kendaraan listrik, maka akan terwujud baterai dengan kualitas lebih baik, biaya produksi lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat mewujudkan pula era kendaraan listrik yang lebih baik,” ungkapnya.
Safira mengaku tertarik dengan tema riset ini karena ingin berkontribusi pada perwujudan revolusi hijau yang komprehensif dan sesegera mungkin. Dengan penerapan kendaraan listrik yang lebih baik, Safira yakin bumi yang semakin menua ini dapat dilestarikan dengan penyelamatan lingkungan dan penyelamatan energi tidak terbarukan dari ancaman krisis.
“Saya sangat senang bisa mendapat kesempatan untuk mewujudkan visi hidup melalui pengembangan riset di usia saya yang ke-17 ini. Banyak hal yang didapat, baik pelajaran kehidupan maupun science advance knowledge yang bahkan teman-teman sekolah saya tidak mendapatkannya,” sebut Safira.

















