Kelor, The Miracle Tree yang Bersaing dengan Ginseng (1)

Teknologi619 Dilihat

“Senyawa metabolit sekunder sulit disintesa, jarang dijumpai di pasaran, sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi. Senyawa bioaktif yang paling banyak diincar dalam kelor adalah flavonoid.  Moringa mengandung berbagai jenis flavonoid senyawa seperti quercetin, kaempferol, isorhamnetin, apigenin, dan myricetin. Kandungan flavonoid daun kelor dilaporkan lebih tinggi dari tanaman lain, seperti bayam, brokoli, dan sayuran lainnya. Bahkan dinyatakan kandungan flavonoid daun kelor lebih tinggi (327,2 ± 13,8 mg/100 FW) dibandingkan 19 sayuran yang biasa dikonsumsi dalam kemasan salad (3,8 – 191 mg/100 g FW) di Spanyol,” tandas Ridwan.

Flavonoid merupakan salah satu senyawa polifenol yang baru-baru ini telah banyak dipelajari dan digunakan dalam bidang kesehatan. Kandungan ini memiliki fungsi potensial sebagai antivirus /bakteri, anti-diabetes, anti-kanker, anti-inflamasi dan untuk pengobatan penyakit degeneratif, tetapi terutama memiliki berfungsi sebagai antioksidan.

Sebagai senyawa fitokimia, flavonoid tidak disintesis pada tubuh manusia ataupun hewan. Biosintesis flavonoid terjadi di hampir bagian tanaman, terutama dalam sel fotosintesis. Kelor merupakan salah satu tanaman yang telah diketahui mengandung senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang tinggi. Namun, kandungan flavonoid tanaman ini sangat bergantung pada kondisi lingkungan, seperti suhu, cahaya intensitas, dan ketersediaan air.

“Perlu diketahui, kelor yang tumbuh pada musim kemarau kandungan flavonoidnya lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan. Bahkan dilaporkan  konsentrasi flavonoid dalam daun kelor  juga meningkat saat diperlakukan dengan menahan air selama 30 hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada Daun kelor dapat ditingkatkan dengan mengurangi air ketersediaan melalui pengolahan stres air,” ungkap Ridwan.

Dari penelitian yang pernah dilakukan, Ridwan mengungkapkan perlakuan kekeringan, terutama cekaman kekeringan yang ringan hingga sedang (50-80 persen kapasitas lapang)dapat menginduksi peningkatan senyawa flavonoid tanpa menurunkan pertumbuhan dan produksi biomassa yang signifikan. Pada cekaman kekeringan yang lebih parah, tidak hanya produksi biomassa yang menurun, namun juga kandungan senyawa flavonoidnya.

Cekaman kekeringan yang ringan-sedang dapat direkomendasikan sebagai metode irigasi yang efektif dan efisien dalam budidaya kelor untuk menghasilkan biomassa daun berkualitas tinggi, yang dapat digunakan sebagai bahan pangan fungsional dan obat-obatan untuk mengobati penyakit degeneratif. Namun, Ridwan mengingatkan penelitian lebih lanjut tentunya masih sangat diperlukan. (infopublik – Sumber dan Foto: Humas BRIN)

Blibli.com
Blibli.com