Sembuhkan Trauma dengan Jadi Cosplayer Hijab, Kini Dara Ini Bisa Berkreasi

Seni Budaya683 Dilihat

Jakarta – Merasa tidak percaya dengan pendampilan diri, dan trauma untuk bersosialisasi menjadi alasan utama bagi Nur Alfi Fauziah (23) menjadi seorang cosplayer hijab. Dengan berpenampilan menggunakan kostum-kostum karakter, dirinya merasa lebih percaya diri.

Alfi sapaanya mengatakan, alasan awal terjun dunia cosplayer karena ingin menyembuhkan trauma masa lalu dan menumbuhkan rasa percaya dirinya di depan umum. Dengan mengenakan costum karakter unik, ia berhasil menyembuhkan traumanya. Bahkan, menjadi hobi baru untuknya berkreasi.

“Dengan memakai kostum ini saya merasa menjadi pribadi yang berbeda sesuai karakter kostum, tanpa harus takut anggapan orang tentang saya sendiri. Karena diterima dan dianggap ada, saya bisa menyembuhkan rasa trauma masa lalu, walaupun prosesnya agak lama,” ujar perempuan kelahiran Kota Hujan itu, Minggu (26/3).

Dalam mengekspresikan tiap kostum karakter, Alfi sebisa mungkin mengaplikasikannya dengan hijab untuk menutup rambut. Sebelum mengenakan kostum, ia harus survei terlebih dahulu mana yang pantas dan tidak untuk diaplikasikan dengan hijab. Hal itu ia lakukan karena kewajiban dirinya sebagai seorang perempuan muslim untuk menjaga penampilan agar tetap tertutup dan sopan.

“Biasanya kan cosplayer itu banyak yang berpenampilan seksi-seksi sesuai karakternya, tapi saya ingin tetap berhijab. Jadi sebelumnya riset dulu karakter apa yang bisa diaplikasikan dengan hijab. Alhamdulillah di sini banyak yang dukung, bahkan bisa menjadi motivasi untuk yang lain di mana hijab bukan halangan untuk menekuni hobi,” tuturnya.

Nur Alfi Fauziah. (dok. Pribadi)

Namun, ia mengaku menjadi cosplayer saat ini hanya sebatas hobi belum bisa menjadi sebuah pekerjaan tetap. Hanya saja di beberapa momentum ada yang tertarik untuk menjadikannya model costum. Dirinya juga pernah mengikuti lomba cosplayer walaupun belum menjadi juara.

Selain itu, melihat beredarnya kasus kekerasan seksual pada para cosplayer, menurutnya, hal itu harus ditindak tegas. Tindakan tersebut terjadi bukan karena pakaian terbuka ataupun tidak, tetapi niat para pelaku untuk melakukannya.

Sehingga, ketika mendapati kasus seperti itu, dirinya tidak ragu untuk mempublikasikan pelaku kejahatan seksual ke media sosial. Hal tersebut adalah salah satu cara instan yang menurutnya cukup ampuh untuk memberi dampak jera kepada pelaku.

“Mereka (pelaku) harus kita beri efek jera, salah satunya dengan meng-upload kejadian ke medsos. Dengan kecanggihan teknologi sekarang masyarakat akan langsung memberikan hukuman sosial ke pelaku dan mencegah kejadian serupa nantinya,” ucapnya. (joglojateng)

Blibli.com
Blibli.com