Program Pendidikan Vokasi Makin Berdampak Positif

Berita Nasional587 Dilihat

Berikutnya, pada Merdeka Belajar Episode ke-11: Kampus Merdeka Vokasi, ia menyampaikan bahwa program Competitive Fund Vokasi telah menjaring 519 mitra di tahun 2022. Salah satu praktik baik dilakukan oleh Politeknik Negeri Jakarta, prodi S.Tr Teknik menerapkan metode Project Based Learning (PBL) pada bidang energi terbarukan melalui magang industri satu semester di PT. Indonesia Power. “Di sini, industri berkontribusi dalam pengembangan buku kompetensi yang digunakan sebagai rujukan kompetensi mahasiswa,” tutur Nadiem.

Pada program Macthing Fund Vokasi, Mendikbudristek menyampaikan bahwa tahun 2022 sebanyak 172 proposal disetujui dari 652 proposal yang diajukan dengan melibatkan 167 Perguruan Tinggi Vokasi, 3.451 dosen, dan 503 mitra dengan pembiayaan mencapai Rp133,01 M.

Program Matching Fund kampus Vokasi telah memberikan dampak positif dengan adanya peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Beberapa peningkatan jumlah produk dalam negeri dan siap komersialisasi, di antaranya pada pengembangan produk Electrical Door Engine Controller Kereta Api bekerja sama Politeknik Negeri Madiun dan PT. INKA dengan TKDN sebanyak 45 persen.

Pengembangan CNC Training Unit, melalui kolaborasi antara Politeknik Manufaktur Negeri Bandung dan PT. CNCCI menghasilkan TKDN 35 persen.

Program-program vokasi mendapatkan apresiasi dari Komisi X DPR RI. Andreas Hugo Pareira, Anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Nusa Tenggara Timur I, mengapresiasi program-program Kemendikbudristek terkait pendidikan vokasi yang terangkum dalam Merdeka Belajar. Menurutnya, saat ini banyak SMK yang sedang mengusulkan untuk menjadi SMK PK, dan hal tersebut didukung minat masyarakat pada SMK yang semakin tinggi.

“Luar biasa, minat anak-anak muda dan orang tua menyekolahkan anaknya ke SMK jauh lebih banyak dibanding ke SMA, dan ini menunjukkan perkembangan yang baik di SMK,” terang Andreas.

Senada dengan Andreas, Fahmi Alaydroes, Anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jawa Barat V, mengapresiasi program SMK PK. Dikatakan Fahmi, SMK PK identik dengan Sekolah Penggerak karena memberikan dampak baik bagi sekolah lain.

“Semoga SMK reguler lainnya juga segera terdorong untuk menjadi SMK PK sehingga akan lebih banyak lagi peserta didik yang menerima dampak positifnya,” harap Fahmi. (SP)

Blibli.com
Blibli.com