Komunitas Pasaman Boekoe Gelar Acara Bantang Lapiak

PASAMAN BARAT – Minggu (14/1) kemarin, ruang pertemuan Museum Tuanku Imam Bonjol (Pasaman) ramai pengunjung. Mereka  adalah pengelola komunitas, sanggar, dan kelompok seni budaya se-Kabupaten Pasaman.

Kehadiran mereka sengaja datang memenuhi undangan Komunitas Pasaman Boekoe menghadiri acara Bantang Lapiak. Sebuah acara bincang budaya dengan tema besar untuk tahun 2024 , Konsolidasi Pemahaman Upaya Ketahanan Budaya. Peserta dan pembicara duduk sehamparan di atas tikar lantai museum satu-satunya yang ada di kabupaten Pasaman.

“Ini cara kami mengambil peran dalam upaya ketahanan budaya. Satu program di bidang kajian yang ada di komunitas kami” jelas Arbi Tanjung, pendiri sekaligus pimpinan komunitas yang berdiri sejak tahun 2020.

Arbi menjelaskan, Bantang Lapiak merupakan kegiatan rutin tiap pertengahan bulan. Mengusung sub-tema yang berbeda tiap bulannya. “Hari ini edisi perdana, mengangkat sub-tema menyigi hubungan antara aktivitas komunitas, sanggar, dan kelompok seni budaya dengan upaya ketahanan budaya di Pasaman,” ungkap Arbi.

Di tengah peserta tampak hadir Jafar, kepala Bidang Kebudayaan Disparporabud Kabupaten Pasaman. “Kami mewakili pemerintah daerah hadir mengambil peran sebagai mitra masyarakat dalam rangka kerja-kerja upaya ketahanan budaya. Memang itu tugas utama kami” jelas Jafar dalam sambutannya.

“Bung Arbi datang kepada kami menyampaikan rencana kegiatan ini pada awal tahun. Kami sahut dengan tegas, kami siap membantu fasilitasi, tempat, snack, dan pengeras suara,” sambungnya.

Ia menjelaskan, “Disayangkan, andai saja bung Arbi datang lebih awal, sekitar bulan Oktober atau November 2023 lalu. Maka Bantang Lapiak tentu akan menjadi bagian kegiatan prioritas dalam anggaran 2024.”

Selain Jafar, acara tersebut juga dihadiri Yayat Wahyudi, S.T, M.Si, sekretaris  mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Dalam sambutannya, Yayat menyebut, upaya semacam ini segaris lurus dengan upaya pemerintah provinsi Sumatera Barat yang menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan.

“Benar dan tepat sekali, kegiatan ini merupakan langkah pertama yang meski dilakukan pemerintah daerah dan masyarakatnya yakni mengkonsolidasikan pemahaman apa itu ketahanan budaya,” lanjut Yayat.