
Proses pembuatan Kiddy Tech bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah pembuatan ilustrasi 3D AR yang menarik dan memikat anak-anak. Selain itu, pembuatan karakter dari kain flanel juga memerlukan ketelitian tinggi dan kerjasama dengan pengrajin lokal.
“Kesulitan utama kami adalah bagaimana menciptakan ilustrasi 3D yang bisa menarik minat anak-anak, tetapi juga aman digunakan. Untuk itu, kami melakukan banyak eksperimen dan uji coba. Kami juga berkolaborasi dengan pengrajin kain flanel di Kota Solo, sehingga masalah dalam pembuatan karakter kain flanel dapat teratasi,” jelas Nabila Nuha Fauziah, anggota tim Kiddy Tech.
Berkat kerja keras dan inovasi yang dilakukan, tim ini berhasil mengatasi berbagai kendala dan menciptakan produk yang tidak hanya menarik tetapi juga aman bagi anak-anak.
Kerjasama dengan pengrajin kain flanel juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat lokal, sehingga dampak positif dari inovasi ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga oleh para pelaku usaha mikro di daerah Solo.
Mengikuti kompetisi FIKSI 2024 memberikan banyak pelajaran berharga bagi tim Kiddy Tech. “Kami belajar tentang pentingnya kerja sama, komitmen, dan inovasi. Kami memahami bahwa sebuah produk inovatif hanya bisa diwujudkan melalui riset mendalam dan dedikasi penuh,” ungkap Adelia.
Melalui proses tersebut, tim juga belajar untuk lebih mendengarkan kebutuhan konsumen, serta memprioritaskan dampak sosial dari produk yang mereka kembangkan. Dengan adanya KiddyTech, tim berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di Indonesia.
“Kami ingin Kiddy Tech bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk tidak takut berinovasi. Melalui produk ini, kami berharap bisa membantu meningkatkan minat belajar anak-anak, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan,” tambah Nabila.



















