Gasiang Tangkurak, Warisan Budaya Minang yang Nyaris Dihilangkan Karena Salah Persepsi

Literasi, Seni Budaya17407 Dilihat

Ibarat permainan, pola kajian tersebut akan dipraktikkan sedemikian rupa oleh Tuo Silek bersama murid-muridnya. Kajian yang semula diawali dengan pemberian pemahaman terhadap keilmuan kebatinan itu, diolah menjadi permainan keseharian. Tujuannya adalah agar ilmu tersebut dapat melekat erat dalam diri para murid. Istilah yang dipakai di Minangkabau adalah, ilmu yang mendarah daging.

Apa saja bagian dari ilmu kebatinan yang merupakan bagian dari pelajaran-pelajaran tersebut? Sala satunya adalah kepiawaian anak-anak Minangkabau dalam berkomunikasi jarak jauh. Hal ini bisa dikatakan sebagai upaya untuk berkirim pesan, baik kepada manusia ataupun makhluk selain manusia. Pola komunikasi ini, salah satunya adalah Gasiang Tangkurak.

Gasiang Tangkurak (selanjutnya disebut Gasing Tengkorak), adalah bagian dari ilmu kebatinan tersebut. Memanfaatkan perantara gasing yang terbuat dari tulang tengkorak (dulunya sebarang tulang tengkorak), gasing akan dimainkan dengan mantera-mantera tertentu. Mantera yang digunakan, adalah pesan tertentu untuk tujuan yang diniatkan sejak awal.

Seperti disebutkan di atas, salah satu tujuan Gasing Tengkorak digunakan oleh orang Minangkabau, adalah untuk mengusir atau menolak bala. Maka di dalam permainan Gasing Tengkorak tersebut, mantera-mantera yang dibaca adalah berupa doa-doa agar bala dapat menjauh.

Namun, pada perkembangannya, tidak setiap pebelajar budaya tradisi Minang yang tetap ‘lurus’ dalam memegang teguh keilmuan yang dipelajari. Sama seperti pebelajar silat tradisi di Minangkabau, saat telah mahir dan tamat belajar (dalam istilah Minang disebut mamutuih), ada yang menjadikannya sebagai alat untuk berbuat jahat. Hal itu juga terjadi pada Gasing Tengkorak.

Gasing Tengkorak, dalam praktik mistis yang dijadikan sebagai alat komunikasi atau media penyampaian pesan oleh orang tertentu, tak jarang digunakan sama seperti santet. Para pelaku Gasing Tengkorak, menjadikannya sebagai alat untuk menyampaikan niat jahatnya pada seseorang yang dituju, seperti keinginan membuat orang tertentu menjadi gila atau mengalami penyakit mistis.

Akhirnya, khusus pada warisan budaya Minang Gasing Tengkorak ini, menjadi fenomena di tengah masyarakat. Fenomena ini menarik perhatian karena nilai-nilai budaya yang kaya itu, menghadapi tantangan terkait dengan persepsi negatif terhadap praktik ilmu hitam yang dikaitkan dengannya.

Padahal, warisan budaya Gasing Tengkorak merupakan bagian penting dari identitas budaya Minangkabau, yang pada gilirannya rentan terhadap kehilangan dan lupakan di tengah arus masa dan persepsi negatif. Seharusnya, warisan budaya ini kembali mendapat perhatian, bukan malah dibiarkan terbenam dalam sejarah buruk keilmuan orang Minang. (*)

Penulis: Nova Indra (Penulis buku Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minangkabau)

Blibli.com
Blibli.com