
Al-Qur’an: Proklamasi Jalan Terlurus
Allah Ta’ala menghadirkan Al-Qur’an sebagai pengganti kitab-kitab terdahulu. Pada ayat ke-9 Surah al-Isra’, Allah Ta’ala dengan tegas memproklamirkan: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.” Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Jika kitab-kitab sebelumnya terbatas untuk bangsa tertentu di zaman tertentu (bersifat lokal dan temporal), Al-Qur’an hadir sebagai solusi universal. Ia adalah “Kitab Terakhir” yang dinuzulkan sebagai standar kebenaran hingga akhir zaman. Tugas menjaga kitab ini kini berpindah ke pundak umat Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Tiga Golongan Penerima Amanah
Bagaimana umat Islam merespons amanah besar sebagai “ahli waris” wahyu ini? Di dalam Surah Faathir ayat 32, Allah Ta’ala mengategorikan umat Islam ke dalam tiga kelompok dalam interaksi mereka terhadap Al-Qur’an:
Sabiqum bil Khairat (Paling Dahulu Berbuat Kebaikan): Mereka adalah orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai denyut nadi kehidupan. Mereka tidak hanya membaca, tapi menghayati dan mengamalkannya secara totalitas. Contoh nyatanya adalah para sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang saleh yang waktunya habis untuk menebar manfaat. Menurut hadis riwayat Ahmad, golongan inilah yang akan masuk surga tanpa hisab.
Muqtashid (Pertengahan): Golongan ini adalah mereka yang taat menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan, namun terkadang masih lalai dalam perkara-perkara sunnah atau terjebak dalam hal-hal makruh. Mereka berada di jalan yang aman, namun belum maksimal. Allah menjanjikan mereka hisab yang mudah (hisaban yasira).
Zhalimun linafsih (Menzalimi Diri Sendiri): Inilah kelompok yang mengaku beriman namun tindakannya sering kali bertolak belakang dengan isi Al-Qur’an. Mereka melakukan maksiat dan melalaikan amanah risalah. Namun, karena mereka masih memiliki akar iman, mereka tidak kekal di neraka. Mereka akan tertahan lama di Padang Mahsyar, merasakan kesedihan dan kesulitan sebagai pembersihan dosa, sebelum akhirnya dimasukkan ke surga berkat rahmat Allah Ta’ala.
Mengambil Estafet dengan Syukur
Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah pengingat bahwa kita, umat Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam., adalah “pemain utama” dalam panggung sejarah dunia saat ini. Gelar “umat pilihan” bukan sekadar label kebanggaan, melainkan beban tanggung jawab yang berat.
Jika Bani Israil digantikan karena mereka mengubah kitab dan membunuh kebenaran, maka kita harus waspada agar tidak terjerumus dalam lubang yang sama, yakni membiarkan Al-Qur’an hanya menjadi hiasan lemari tanpa pernah menyentuh perilaku keseharian. (*)
Penulis: Dr. Irwandi Nashir (Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi)



















