Estafet Cahaya: Isra’ Mi’raj dan Rahasia Peralihan Risalah Semesta

Berita Opini1587 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ  sering kali dimaknai selama ini sebagai perjalanan  Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jasad dan ruhnya, yang intinya adalah untuk menerima perintah salat lima waktu.

Namun, jika kita menyelami tirai sejarah melalui lensa Surah al-Isra’, kita akan menemukan sebuah narasi yang jauh lebih besar, yaitu sebuah pengumuman semesta (proklamasi kosmologis) tentang peralihan amanah kepemimpinan spiritual dunia. Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan menembus ruang dan waktu, melainkan sebuah seremoni “serah terima jabatan” risalah ilahi dari Bani Israil kepada umat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

Dibalik  Nama Surah dan Posisi Masjidil Aqsha

Bagi para penuntut ilmu, ada sebuah pertanyaan menarik:  mengapa surah yang mengisahkan perjalanan ke langit ini dinamakan Surah al-Isra’ (Perjalanan Malam) dan bukan Surah al-Mi’raj? Mengapa pula nama lainnya adalah Surah Bani Israil?

Jawabannya terletak pada apa yang terjadi di bumi, tepatnya di Masjidil Aqsha. Di tempat mulia suci itulah Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengimami salat yang makmumnya adalah seluruh nabi terdahulu, mayoritas dari mereka berasal dari kalangan Bani Israil.

Ada makna di balik peristiwa shalat berjamaah di masjid al-Aqsha itu. Bahwa peristiwa itu adalah pengakuan totalitas para nabi terdahulu atas kepemimpinan nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam . Peristiwa ini menandai berakhirnya masa kepemimpinan Bani Israil yang telah lama menjadi pemegang estafet wahyu, dan dimulainya era baru di bawah naungan al-Qur’an.

Mata Rantai Kitab: Dari Nuh hingga Al-Qur’an

Surah al-Isra’ secara unik menjadi surah yang paling sering menyebut istilah Al-Qur’an dan Al-Kitab. Ini bukan tanpa alasan. Allah Ta’ala ingin menegaskan bahwa inti dari peralihan kekuasaan ini adalah menjaga kemurnian wahyu.

Mari kita baca kembali surah al-Isra’ itu. Pada ayat pertama,  Allah Ta’ala berbicara tentang peristiwa Isra’ sebagai perjalanan yang menakjubkan. Lalu, pada ayat kedua dan ketiga  Allah Ta’ala menyebutkan pemberian Taurat kepada Musa sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Menariknya, Allah Ta’ala menghubungkan silsilah mereka dengan Nabi Nuh  melalui kalimat, “Wahai keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh.” Ini adalah pengingat sejarah yang kuat. Nabi Nuh adalah simbol keselamatan dari kehancuran global karena rasa syukurnya yang luar biasa. Sayangnya, warisan syukur dan ketaatan ini tidak dijaga dengan baik oleh para penerusnya.

Sejarah mencatat bahwa Bani Israil melakukan dua kerusakan besar di muka bumi. Pertama, mereka mengubah isi Taurat demi kepentingan duniawi. Kedua, mereka melakukan kekejian yang tak terperikan dengan membunuh para nabi, seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, serta upaya pembunuhan terhadap Nabi Isa ‘Alahissalam. Ketidakmampuan mereka menjaga kesucian Kitab itulah yang memicu “pemecatan” mereka sebagai pemegang otoritas wahyu.

SELANJUTNYA: Al-Qur’an: Proklamasi Jalan Terlurus…….

Blibli.com
Blibli.com