Setahun Banjir Lahar Dingin Marapi, Kisah Kelam untuk Belajar dan Siaga Bencana

Berita Opini6497 Dilihat

SETAHUN LALU, tepat hari ini,. Tanggal 11 Mei 2024, menjadi malam yang begitu kelam bagi warga Tanah Datar, Padang Panjang, dan Kabupaten Agam. Hujan deras yang sejak sore mengguyur sebagian wilayah Sumatra Barat, ternyata melahirkan kisah yang begitu pahit.

“Sekitar pukul 21.45, saya ditelfon oleh ibu-ibu di Tanah Datar, “Bang, ustadz di tempat anak-anak mengaji barusan telfon, katanya suruh jemput anak-anak, karena air tiba-tiba besar dan ada tiang listrik yang roboh…. Di belakang rumah juga terdengar suara air besar. Bantu cek!” Suara di ujung telepon terputus-putus. Suara si ibu tersendat. Ada kepanikan dalam nada suaranya. Sementara hujan masih saja deras.

Setelah mendapat kabar tersebut, ponsel di tangan kembali berdering. “Pak, barusan info dari warga, di Lubuk Mata Kucing air sungai naik, sangat tinggi.” Suara seorang rekan pegiat radio komunikasi terengah-engah di seberang sana.

Apa yang terjadi? Sesuatu yang tak pernah disangka oleh warga Sumatra Barat selama ini ternyata menjadi kenyataan. Banjir lahar dingin Gunung Marapi telah terjadi. Air bah meluap dari sungai-sungai yang berhulu dari puncak Marapi. Membawa gelondongan kayu dan material vulkanik yang mengendap setelah berbulan-bulan menumpuk akibat erupsi besar Marapi awal Desember 2023.

Semua panik. Warga, petugas kebencanaan, organisasi radio komunikasi dua arah, sibuk dengan aktivitas masing-masing mencari dan memastikan kejadian tersebut sunggug nyata. Sementara di tempat-tempat yang langsung terdampak banjir lahar dingin itu, warga telah bergelimpangan. Ada yang hanyut terbawa arus air yang begitu besar, ada yang terjebak dalam rumah yang tiba-tiba saja hanyut ke hilir.

Puluhan korban menninggal dunia akibat kejadian itu. Harta benda warga pun ikut hancur tak bersisa dilumat banjir lahar dingin Marapi. Semua terjadi secara tiba-tiba. Ketika malam yang begitu sunyi menjadi hiruk-pikuk dengan upaya penyelamatan.

Sungguh, bencana tersebut belum pernah terbayangkan oleh warga di kaki Marapi. Selama ini, warga Sumbar sering melihat tayangan di televisi tentang banjir lahar dingin dari Gunung Merapi di Jawa Tengah, pun dari Gung Semeru di Jawa Timur. Tapi kini, banjir lahar dingin itu terjadi di Sumatra Barat. Tiga daerah menjadi sasaran hempasan besarnya gulungan material vulkanik dan batu-batu sebesar truk yang menggelinding bersama arus air dari puncak Marapi.

Menurut data ketika itu, sekitar 67 jiwa meninggal dunia. Korban luka dan dapat selamat dari peristiwa mengerikan itu pun kian bertambah menjadi puluhan dari data yang belum terverifikasi. Mungkin saja ratusan, karena sibuknya petugas pendataan, dipastikan tidak akan mendapatkan data pasti terkait korban yang sebenarnya. Jumlah keluarga terdampak pun mencapai angka di atas seribu, sementara korban yang dinyatakan hilang hingga masa pencarian berakhir pun masih simpang-siur.

Blibli.com
Blibli.com