Setahun Banjir Lahar Dingin Marapi, Kisah Kelam untuk Belajar dan Siaga Bencana

Berita Opini6498 Dilihat

Pencarian korban, proses evakuasi ke tempat-tempat aman, dan upaya untuk menjaga para pengungsi serta warga yang terisolasi, terus dilakukan. Bantuan dari berbagai pihak mengalir deras. Posko-posko bantuan pun menjamur di berbagai daerah.

Berbulan-bulan, waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Jalan nasional dari Padang menuju Padang Panjang, tepatnya di wilayah Kecamatan X Koto Tanah Datar, terputus dan diperbaiki selama dua bulan lebih. Di daerah Bukik Batabuah, jalanan dibebaskan dari gelondongan kayu dan batu-batu sebesar mobil. Di Lima Kaum dan Rambatan, jembatan kembali diperbaiki.

Sungguh, bencana banjir lahar dingin Marapi setahun lalu itu begitu menyesakkan dada masing-masing warga. Bukan hanya persoalan kematian dan kehilangan keluarga dan harta benda, tapi bencana itu juga mengubah keadaan. Ekonomi Padang Panjang dan Tanah Datar pun terganggu serius.

Kini, tepat satu tahun bencana itu terjadi. Bukan untuk kembali mengingatkan betapa pedihnya hati ketika keluarga korban menangis karena kehilangan, tapi ini adalah pelajaran berharga yang harus dibayar mahal oleh kita semua. Sekolah alam kadang memang membutuhkan biaya tak sedikit, bahkan kadang nyawa manusia pun harus turut membayarnya.

Apa yang harus kita jadikan pelajaran? Semua elemen, bukan hanya pemerintah, tetap juga untuk semua warga yang ada di daerah ini, perlu menyikapi bahwa bencana dapat datang tanpa menunggu kesiapan manusia. Bencana bisa saja tiba-tiba menghampiri, tanpa pesan sebelumnya.

Terkait banjir lahar dingin Marapi, hingga kini pun kita tidak boleh lengah. Satu juta meter kubik endapan material vulkanik Marapi masih siap untuk meluluhlantakkan wilayah yang ada di kakinya. Ketika hujan deras di puncak gunung dengan ketinggian 2.891 MDPL itu terjadi, kemungkinan akan terulang peristiwa serupa masih tetap ada. Lengah sedikit saja, bencana akan berulang, dan kembali merenggut korban yang tidak sedikit.

“Sabo Dam telah dipersiapkan dan dibangun. Jangan takut-takuti masyarakat dengan bencana serupa.” Demikian ujar seorang warga ketika diwawancara terkait kesiapsiagaan warga. Kalimat yang penuh keyakinan itu bukanlah perilaku bijak. Karena bencana bisa saja terjadi saat semua persiapan dan antisipasi sempurna menurut aal pikiran manusia.

Di satu tahun kejadian ini, akan lebih bijak kiranya semua kita tetap waspada. Kewaspadaan itu sendiri, bukan hanya dengan mendengar dan menyaksikan dengan mata kepala, tetapi juga dengan upaya yang terus menerus, dengan kesiapsiagaan yang terencana, terukur, dan dimiliki oleh setiap nyawa di kaki Marapi. (*)

Blibli.com
Blibli.com