
LIMAPULUH KOTA – Sabtu (17/1/2026), pendidik berseragam batik Muhammadiyah memenuhi gedung pertemuan Pondok Pesantren Muhammadiyah Al Kautsar di kawasan Sarilamak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Mereka mengikuti pertemuan yang bukan sekadar apel guru biasa. Pertemuan itu berisi sebuah pesan penting yang ditiupkan; guru adalah arsitek yang merancang masa depan kognitif sekaligus spiritual generasi melalui pendekatan kenabian.
Pada kesempatan itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, menjadi narasumber. Dalam paparannya, Irwandi membedah membedah sisi lain dari kepemimpinan profetik.
Akademisi UIN Bukittinggi itu menyitir Surah Al-Ahzab ayat 45-46 untuk memetakan peran guru. Baginya, fondasi paling krusial terletak pada peran pertama: syaahidaa atau saksi. Irwandi membawa istilah teologis itu ke meja laboratorium neurosains. Menjadi saksi, menurut pandangannya, berarti menjadi pengamat aktif atas pertumbuhan otak siswa.
Ia memaparkan sebuah fakta biologis yang menarik; setiap kali seorang anak menyerap ilmu baru, terjadi aktivitas yang luar biasa di balik tempurung kepala mereka.
“Ada sekitar 100 miliar sel otak yang saling berinteraksi melalui triliunan sinapsis. Di sanalah kecerdasan dirajut,” ujarnya.
Ia menekankan, meskipun faktor genetik memberikan cetak biru awal bagi potensi otak, lingkunga, termasuk kehadiran guru di kela turut menjadi penentu utama.
Interaksi antara guru dan siswa, terang Irwandi, adalah bentuk rekayasa lingkungan yang mampu memicu plastisitas otak. Tanpa pemahaman emosional yang tepat, potensi genetik siswa akan sulit berkembang. Di sinilah guru berperan sebagai penjaga yang memastikan setiap stimulus pendidikan memperkuat jaringan saraf tersebut.
Menjadi Cahaya Penuntun
Setelah peran sebagai saksi terpenuhi, paparnya, guru baru dapat memainkan peran sebagai pembawa kabar gembira (mubasysyiraa), pemberi peringatan (nadziiraa), hingga pembimbing ke arah kebaikan (da’iyan ilallaah). Puncaknya, guru diharapkan mampu menjelma menjadi siraajan muniiraa, yaitu cahaya yang menerangi.
Dalam pandangan Irwandi, menjadi cahaya berarti guru harus mampu menghalau kegelapan ketidaktahuan yang menyelimuti siswa. Cahaya ini bukan sekadar metafora, melainkan resonansi spiritual dan intelektual yang memberikan arah saat siswa kehilangan orientasi.
Sebagai siraajan muniiraa, lanjutnya, guru tidak hanya mengisi benak siswa dengan data, tetapi menyalakan pelita di dalam jiwa mereka, memastikan ilmu yang diserap tidak hanya menjadikan mereka pintar secara kognitif, namun juga bijak secara moral.
Melengkapi narasi ilmiah-profetik tersebut, sisi sejarah menjadi pengikat yang kuat. Desembri Chaniago, MH., salah seorang narasumber lain yang turut dihadirkan pada kegiatan tersebut menekankan, kepemimpinan ini harus berakar pada ideologi Muhammadiyah yang rasional dan berkemajuan.
Di sisi lain, Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, yang hadir membuka apel tersebut, menarik benang merah antara pendidikan dan perjuangan bangsa.
Ia memantik memori kolektif tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Baginya, tanah Lima Puluh Kota adalah saksi sejarah di mana kedaulatan negara dijaga dengan gigih. Semangat juang tokoh-tokoh PDRI inilah yang menurut Ahlul harus diwarisi dan diterapkan oleh para guru di ruang kelas.
Pesan serupa ditegaskan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, Ki Jal Atri Tanjung, MH., yang mengingatkan pentingnya guru memiliki modal sejarah untuk mendidik generasi masa depan.
Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Al Kautsar, H. Dafri Harweli mengatakan, apel guru sekolah Muhammadiyah ini didukung oleh Forum Guru Sekolah Muhammadiyah Sumatera Barat, Baznas dan BSI.
Ditambahkannya, apel yang dihadiri oleh 250 peserta itu ditutup dengan pemberian apresiasi kepada sekolah dan guru berprestasi dalam 11 kategori, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.(IN)



















