
WARTA PENDIDIKAN – Kesalahan penerjemahan suatu nama kampung sesungguhnya bukan sekadar urusan makna (semantik), melainkan dapat menghilangkan jejak pesan yang dikandung dalam nama suatu tempat yang diwariskan nenek moyang.
Salah satu kasus yang paling krusial adalah upaya pengindonesiaan nama Salareh Aia menjadi Selaras Air yang saya baca dalam beberapa pemberitaan di media nasional. Sebagaimana dimaklumi, nama nagari Salareh Aia dikenal karena menjadi lokasi paling parah di kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang dihantam galodo (banjir bandang), Selasa, 25/10/2025.
Saat saya berkunjung ke nagari Salareh Aia untuk program trauma healing bagi anak-anak terdampak musibah banjir bandang ini, saya bertanya kepada masyarakat di Salareh Aia tentang makna nama kampung itu.
Dugaan saya tepat, Salareh Aia tidak sama dengan Selaras Air. Justru, Salareh Aia artinya sederas air. Masyarakat disana memahami kata salareh bersinonim dengan sadareh. Artinya terdapat pergeseran fonetis, yaitu dari Dareh ke Lareh.
Khazanah kebahasaan Minangkabau mengandung variasi dialektikal yang kaya. Sering kali kata “Dareh” (deras) dalam dialek standar mengalami pergeseran fonetis di beberapa wilayah menjadi Lareh. Prosesnya adalah konsonan dental /d/ bergeser menjadi lateral /l/.
Dengan demikian nama Salareh Aia berasal dari morfologi Sa- (Se-) + Lareh (Deras/Laju) + Aia (Air). Jadi, secara harfiah artinya adalah “Sederas Air”.Ketika nama ini dipaksa menjadi “Selaras”, terjadi sinkretisme semantik yang keliru. Kata “Selaras” dalam bahasa Indonesia merujuk pada harmoni atau kesesuaian (harmony/alignment), yang sangat jauh berbeda dari konsep kecepatan dan volume air yang tinggi (torrential flow).
Nenek moyang masyarakat Minangkabau memberikan nama daerah bukan berdasarkan estetika semata, melainkan berdasarkan karakteristik bio-geofisika wilayah tersebut. Dengan demikian, nama “Salareh Aia” adalah sebuah Early Warning System (EWS) prasejarah. Nama ini memberitahu anak cucu bahwa kawasan tersebut memiliki karakteristik aliran air yang bisa menjadi sangat deras (potensi banjir bandang atau galodo).
Penyebutan Salareh Aia menjadi Selaras Air adalah bentuk eufemisme yang membawa bahaya. Pengubahan penyebutan itu menjadi “Selaras Air” menciptakan rasa aman palsu (false sense of security). Masyarakat mungkin menganggap daerah tersebut tenang dan harmonis dengan air, padahal nama aslinya memperingatkan tentang keganasan arus.
Riset mendalam wajib diperlukan baik untuk memaknai nama sebuah daerah maupun sebagai panduan ilmiah untuk meluruskan upaya “mengindonesiakan” nama-nama lokal, tak terkecuali untuk nama-nama daerah di Sumatera Barat.
Sembarangan dalam melakukan pergeseran fonetis untuk nama daerah berpotensi mengilangkan identitas geografis dan jejak sejarah kebencanaan. Baahkan, itu akan berdampak pada kesalahan tata ruang dengan adanya pembangunan pemukiman di area yang secara toponimi sudah diperingatkan sebagai jalur air deras.
Intinya, upaya untuk menganjurkan masyarakat agar mempertahankan nama Salareh Aia didasarkan pada pemahaman bahwa nama daerah itu berarti Sederas Air adalah bentuk penghormatan terhadap kecerdasan ekologis nenek moyang. Kita tidak boleh mengorbankan akurasi informasi bencana demi estetika bahasa yang keliru.Salareh Aia adalah penginga, bahwa tetaplah waspada, karena air di sini bisa menjadi sangat deras.(*)
Penulis: Dr. Irwandi Nashir (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Bukittinggi)



















