Menyelami Lubuk Paham Manusia: Tingkatan Manusia dalam Falsafah Minangkabau

Pojok Irwandi6706 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Hari ini, hingar-bingar peradaban moderen yang menyanjung kecerdasan akal dapat mengikis kecerdasan spritual. Akibatnya, lentera penerang untuk menuntun kaki melangkah turut padam. Pencapaian materi dikejar manusia sekuat-kuatnya. Namun pada saat yang sama jiwa mengalami kegersangan.

Dalam kegamangan ini, kata pusaka yang mengandung pesan berhikmah dari tanah Minangkabau hadir bukan sekadar sebagai nostalgia, melainkan sebagai “obat” yang meresepkan pemulihan kesadaran. Ada mutiara hikmah dari bumi Minangkabau yang membidik pusat kesadaran jiwa kita:”Paham arif balawan banyak, Paham cadiak maangan urang, Paham mati mangunyah bangkai.”

Ungkapan ini tak hanya mengendepankan estetika dan logika berbahasa, tapi mengajarjan tingkatan kesadaran manusia tentang kedudukan akal budi yang dimilikinya. Menyelami Makna ungkapan ini juga dapat untuk memuhasabah diri: apakah kita layak disebut sebagai orang yang bijaksana, atau  sang manipulator, atau justru manusia yang telah padam lentera nuraninya.

Tiga Lubuk Paham

Kita telusuri dari tingkatan paling rendah dan zona yang paling gelap dalam jiwa manusia: “Paham mati mangunyah bangkai (Paham mati mengunyah bangkai).” Secara harfiah, ini terdengar menjijikkan dan mengerikan. Namun, secara maknawi, ini menggambarkan kondisi manusia yang hatinya sudah mati. Dalam khazanah kajian tasawwuf, hati seperti itu dinamakan dengan qolbun mayyit (hati yang mati).

Qolbun mayyit adalah hati yang tak lagi ada di dalamnya sensor yang membedakan objek yang halal, haram, dan syubhat (sesuatu yang meragukan). Padahal, mutiara paling berharga dalam batin seorang hamba adalah ketika Allah Ta’ala menganugerahkan kepadanya Furqoona (pembeda) sebagai buah dari ketaatannya kepada Allah Ta’ala.

“Mangunyah bangkai” juga perumpamaan untuk manusia yang sibuk menguliti aib manusia dan menebar fitnah. Ungkapan “mangunyah bangkai” ini menemukan sandaran teologis yang sangat kuat dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala mewahyukan  dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”

Blibli.com
Blibli.com