
Mereka yang punya “paham mati” ini juga bisa diartikan sebagai orang yang statis dan hanya sibuk bernostalgia dan membanggakan masa lalu. Mereka tak mau berjihad dan bersungguh-sungguh untuk menjawab tantangan zaman.Mereka mengunyah “bangkai” sejarah tanpa melahirkan sejarah baru.
Naik satu tingkat di atasnya, kita menemukan Paham Cadiak Maangan Urang. Dalam bahasa Indonesia, padanan kata cadiak adalah cerdik. Tapi kata cerdik juga bisa bermakna licik. Pemaknaan seperti itu bergantung pada konteks penggunaan kata cadiak. Maangan maksudnya membuat angan-angan atau melenakan. Jadi, maksud ungkapan “paham cadiak maangan urang” adalah paham licik melenakan orang.
Di sinilah letak bahaya terbesar bagi tatanan sosial masyarakat modern. Kata “cadiak” (cerdik) di sini tidak bersanding dengan “pandai”, melainkan berdiri sendiri sebagai kecerdasan yang licik. Ini adalah watak manusia yang menggunakan akalnya untuk memanipulasi, mengeksploitasi, dan “memangsa” hak-hak orang lain demi keuntungan pribadi.
Paham cadiak maangan urang melahirkan perilaku merampas dan mendindas hingga praktik ekonomi kapitalistik yang serakah. Mereka cerdas, lihai memanipulasi data, dan pandai memutarbalikkan fakta. Namun, kecerdasan itu tidak diterangi oleh nurani. Filosofi Minangkabau sangat menentang hal ini. Kecerdasan tanpa raso pareso (rasa dan periksa) adalah bencana. Mereka adalah benalu yang merusak tenun kebangsaan. Mereka hidup, bergerak gesit, tetapi gerakannya mematikan orang lain. Ini adalah bentuk kegagalan pembentukan karakter. Mereka memiliki kecerdasan otak tanpa ketajaman mata hati.
Puncak dari evolusi jiwa manusia yang ideal dan ini menjadi puncak dari pendidikan akhlak adalah ketika berada dalam lubuk paham lapisa ketiga: Paham Arif Balawan Banyak. Kata “Arif” berakar dari bahasa Arab ‘Arafaa yang berarti mengetahui atau mengenal (ma’rifat). Orang yang arif adalah mereka yang telah sampai pada hakikat kebenaran. Namun, mengapa sifat arif ini disandingkan dengan balawan banyak (berlawanan dengan orang banyak)?
Di sinilah letak kedalaman filosofis dan profetiknya. Kebenaran sejati sering kali sunyi dan asing. Di zaman penuh kebohongan (era post-truth), memegang teguh kejujuran sering kali berarti harus siap dikucilkan. Seorang yang Arif memiliki kemerdekaan berpikir. Ia tidak hanyut oleh arus mayoritas jika arus itu menuju kebatilan. Ia berani berbeda bukan karena ingin tampil beda, melainkan karena ia melihat apa yang tidak dilihat orang banyak. Ia memandang dengan mata hati (bashirah).



















