Menyelami Lubuk Paham Manusia: Tingkatan Manusia dalam Falsafah Minangkabau

Pojok Irwandi7822 Dilihat

Sikap “balawan banyak” ini adalah manifestasi dari keteguhan iman yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Dalam sebuah Hadits Shahih riwayat Imam Muslim, Nabi bersabda:

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu (Al-Ghuraba).”

Orang yang memiliki paham arif adalah mereka yang memilih tersisih demi menempuh jalan yang bersih. Mereka bagaikan orang asing di zamannya. Ketika orang banyak sibuk “maangan urang” (melenakan manusia dengan berbagai kepentingan), ia memilih minggir untuk menjaga integritas. Ketika orang banyak “mangunyah bangkai” (sibuk mengurus aib orang lain), ia memilih diam dan berkarya. Ia “melawan” arus kehancuran dengan bertahan pada prinsip ilahiah. Inilah kualitas kepemimpinan sejati di Minangkabau. Di Minangkabau, mereka didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, bukan karena ia memaksa naik untuk dihormati, tetapi karena kualitas kearifannya yang membedakannya dari kerumunan massa yang bingung.

Hidup adalah sebuah pendakian dari lembah kematian menuju puncak kearifan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita membusuk dalam paham mati, dan kita harus waspada agar kecerdasan kita tidak tergelincir menjadi paham cadiak yang memangsa sesama. Tujuan kita adalah menjadi Insan Kamil (manusia paripurna) yang memiliki paham arif.

Meskipun jalan kearifan itu sunyi, terjal, dan sering kali “berlawanan dengan banyak orang”, itulah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita pada keselamatan sejati, di dunia maupun di akhirat.

Mari kita tajamkan akal, mata hati, dan eratkan simpul iman agar kita menjadi manusia yang tidak sekadar hidup, tetapi menghidupkan dan mencerahkan. In Shaa Allah. (*)

Penulis: Dr. Irwandi Nashir (Pegiat Literasi Falsafah Minangkabau/Dosen UIN Bukittinggi)

Blibli.com
Blibli.com