
WARTA PENDIDIKAN – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperkuat hubungan dengan kitab suci.
Saat Ramadhan masuk, banyak orang bersemangat mengejar khatam Al-Qur’an. Padahal, yang lebih utama bukanlah jumlah khataman, melainkan kualitas bacaan dan kesungguhan dalam mempelajarinya.
Al-Bukhari dalam Shahih-nya, nomor 3.220, hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas itu menjelaskan, Rasulullah adalah pribadi paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat saat Ramadan, khususnya ketika Malaikat Jibril datang setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Hadis ini memuat dua pesan penting. Pertama, menggambarkan kemuliaan sifat Nabi yang lembut, baik, dan dermawan. Kedua, menunjukkan bahwa sifat-sifat tersebut bertambah kuat di bulan Ramadan, terutama karena interaksi intensif dengan Al-Qur’an.
Keistimewaan Ramadan tidak bisa dilepaskan dari turunnya Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Karena itu, para ulama sepakat bahwa interaksi dengan Al-Qur’an merupakan agenda pokok Ramadan.
Nabi setidaknya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap Ramadan. Bahkan pada Ramadan terakhir sebelum wafat, Nabi mengkhatamkannya dua kali. Ini menjadi isyarat kuat bahwa membaca Al-Qur’an adalah amalan utama yang tak boleh ditinggalkan.
Tiga bentuk interaksi dengan Al-Qur’an: membaca (qiraah), mengkaji dan memahami (tilawah), serta menghafal (tahfiz). Namun penekanan pentingnya adalah membaca dengan benar dan berkualitas.
Bacaan yang benar secara tajwid, tepat dalam makhraj, memahami hukum waqaf-ibtida, hingga hal-hal khusus (gharib) dalam bacaan, adalah keutamaan.
Ramadan adalah momentum terbaik untuk mempererat hubungan dengan kitab suci dan meraih keberkahan yang dijanjikan Allah. (*)



















