
JAKARTA – Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan keagamaan serta rumah ibadah pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menunjukkan progres positif.
Hal itu disampaikan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (12/2/2026). Saat ini, sebagian besar fasilitas publik tersebut telah pulih dan kembali melayani masyarakat untuk aktivitas ibadah maupun belajar mengajar.
“Sekarang, Alhamdulillah, kita bisa lihat sudah dilakukan rehabilitasi bertahap pada 650 madrasah dan kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan,” ujar Nasaruddin.
Data Kementerian Agama mencatat dampak banjir di Sumatra meliputi 773 madrasah, 1.173 pesantren, 1.593 rumah ibadah, dan 102 Kantor Urusan Agama (KUA).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.066 pondok pesantren, 1.553 rumah ibadah, dan 101 KUA dilaporkan sudah kembali beroperasi secara normal.
Terkait gedung yang mengalami kerusakan masif, Nasaruddin menjelaskan adanya kolaborasi lintas kementerian guna mempercepat pembangunan fisik. Pihaknya juga telah memetakan kebutuhan relokasi bagi bangunan yang berada di zona rawan.
“Untuk renovasi dan pembangunan gedung-gedung madrasah kami kerja sama dengan Kementerian PU. Alat-alat berat turun dan siang dan malam mereka bekerja, sehingga hasilnya bisa kita lihat seperti berikut. Kita juga sudah lengkapi sebagian besar mimbarnya, sound system-nya, kemudian listriknya, termasuk juga jaringannya,” jelas Nasaruddin.
Secara rinci, Kemenag mengusulkan anggaran sebesar Rp85,5 miliar untuk kebutuhan pembelajaran di 123 madrasah rusak berat.
Selain itu, dialokasikan dana rehabilitasi sebesar Rp74,1 miliar untuk 107 pondok pesantren, Rp20 miliar sebagai stimulasi bagi 40 rumah ibadah, serta Rp3 miliar untuk pengadaan lahan dan rekonstruksi satu unit KUA yang harus direlokasi.(*)



















