Kisahku, Pengguna Media Sosial yang Ingin Berliterasi

Kisah247 Dilihat

Waseeek..”

Hobaaah.. ”

Kata-kata itu selalu aku tuliskan di komentar room live streaming.. Begitulah aktivitas teman-teman TikTokku saat mereka bergantian menyanyikan lagu-lagu yang entah untuk menghibur diri, hobi atau memang punya bakat alami yang tidak tersalurkan di dunia nyata.

Tak terasa hampir setahun aku menjilat ludahku sendiri. Yach… Awalnya aku sangat idealis. Beranda medsosku, isinya literasi, narasi dan sejenisnya. Bahkan tak jarang aku ikut dalam perdebatan dimedsos untuk urusan politik dan sosial.

Pernah pula, akun medsosku begitu panas saat pemilihan presiden tahun 2019 silam. Saat itu aku terbawa arus untuk berdebat dan merasa pilihanku yang harusnya menang.  Dan peristiwa-peristiwa politik yang kian panas itu, turut membuat makin memanasnya grup-grup literasi dengan perdebatan yang tak kunjung usai hingga hari ini.

Meski pada akhirnya grup penulis itu tiba-tiba dibanned dan terpecah-belah menjadi grup-grup kecil, tetapi tulisan isu politik dan kritikan yang bersih.

Namun kini, yang berseliweran di beranda medsosku semua seragam pada akhirnya. Cerita tentang perselingkuhan, menantu tersakiti, balas dendam dan  drama-drama picisan yang didubbing dari siaran televisi dengan berganti nama saja.

Akhirnya aku kembali ke dunia nyata di mana aku kembali ke dunia baru pada ruang-ruang persahabatan dan pertemanan. Pertemanan antar sesama pedagang kaki lima, itu salah satunya.

Awalnya  aku merasa sedikit heran dan berfikir, kenapa teman-teman suamiku suka sekali mengeluhkan kesulitan keuangan atau ingin membantu teman yang sakit dan lain-lain. Dan di saat bersamaan, kondisi ekonomi sama-sama pas-pasan.

“Pak.. Kenapa nggak bikin komunitas/grup saja.. agar kita lebih bisa saling membantu dan support antar pedagang? ” Demikian ujarku suatu ketika memberi masukan.

Suamiku tidak langsung mengiyakan. Tapi karena dia di kalangan pedagang kaki lima terkenal baik dan suka menolong, akhirnya ambat laun terbentuklah kumpulan pedagang kaki lima itu.

Kembali ke diri sendiri, aku hanyalah orang rumahan. Meskipun aku pandai berdebat tapi cuma di medsos saja… Aslinya, aku seorang introvert. Tapi saat inilah, aku mulai mengikis rasa maluku di depan banyak orang. Aku memulai bersahabat dengan istri-istri pedagang kelompok suamiku yang pada saat itu jadi ketua. Otomatis, aku selalu menyertainya saat pertemuan-pertemuan atau acara komunitas.

Lika-liku sebuah grup komunitas memang alurnya mungkin sama saja di manapun. Hingga di tahun kelima semuanya berubah. Berbalik arah. Hal itu dimulai dari kejatuhan suamiku. Bagaimana suamiku yang sudah menggeluti jualan mainan [balon] yang cukup lama dan jadi orang pertama ketika itu. Ya, cukup lama, seusia dengan anak laki-lakiku, 17 tahun.

Sepertinya kehidupanku sedang menghadapi ujian hidup. Ketika aku yang awalnya ingin berjualan meski di rumah. Awalnya sangat prospektif. Rumahku sebenarnya sangat layak untuk berjualan karena tepat berada di depan sekolah.

Blibli.com
Blibli.com