
Selama ini, banyak tetangga yang ikut berjualan. Aku menghargai aktivitas mereka. Lagi pula, aku bukan tipikal orang yang ngoyo dalam hal uang atau materi. Aku sudah merasa cukup ketika mendapatkan rejeki untuk makan dan biaya sekolah.. Itu saja aku sudah alhamdulillah.
Tetapi ketika tetanggaku tak berjualan, aku pun memulai berjualan. Jujur, aku orangnya kaku dan pemalu. Namun, lambat laun aku terbiasa menghadapi orang sekaligus mengenal karakter pembeli.
Berjalan setahun, usaha warungku menghasilkan, dan suamiku juga dagangannya lancar. Anak buahnya silih berganti menyetorkan hasil jualan. Walaupun memang nominalnya kecil, tapi jika tiap hari tentu cukup buat menghidupi kami sehari-hari.
Namun, hanya setahun saja aku menikmati usahaku mulus. dan berpenghasilan. Setelah itu keadaan berbalik. Tetanggaku kiri kanan, jauh dan dekat sama-sama berjualan juga.
Di tahun kedua itu, suamiku juga harus menghadapi kenyataan anak buahnya berkhianat. Jika hanya berjualan sendiri sepertinya tak bermasalah karena tidak merusak yang sudah ada dari menurunkan harga, mengambil simpati klien. Tapi sekarang, bahkan nama baik suamiku pun ikut pula dirusak di belakang kami.
Aku menyadari, itu adalah risiko yang harus dihadapi. Warungku lambat laun pun kian turun omsetnya. aku tak sanggup membiayai berulang karena keadaan usaha suamiku juga akhirnya sepi. Sesekali saja yang memesan balon atau berjualan sendiri, pun rasanya sekarang sulit untuk mencukupi biaya pendidikan anak-anakku.
Alhamdulillah.. dalam keterpurukan itu, suamiku bertahan dengan memelihara ternak dan juga berjualan bakso pentol keliling. Meski tak setiap hari, cukuplah untuk makan dan membiayai bekal pendidikan anakku di pondok sekaligus sekolah kedua anakku. Dan anak gadisku kebetulan ada simpanan, aku masukkan dia kuliah meski kelas karyawan. Itu sudah lumayan buat kami.
Sekarang, aku tak punya kesibukan lagi. Anak-anak sibuk dengan sekolah mereka, sementara suamiku berjualan atau mencari pakan ternak. Kini, akhirnya aku kesepian, pekerjaanku tidur, mengerjakan tugas rumah dan tidur lagi.
Satu lagi, ponsel anakku yang tak terpakai lagi akhirnya aku yang menggunakan. Rasa penasaran dengan medsos anakku, aku telusuri dan aman ternyata tak ada yang mencurigakan.
Eh, tunggu dulu.. Kenapa ada banyak emak-emak di TikTok? Akhirnya aku buat akunku sendiri. Aku cari konten-konten karaokean, kuis, video lucu.. Sesuai dengan apa yang ada di kepala dan sesuai moodku. Sampai hampir setahun.. Akhirnya aku bertemu kembali dengan orang literasi, meski terbatas..
Dan entah kenapa kali ini aku merasa tertantang untuk menulis.. aku memang tak pandai merangkai kata, bersandiwara atau memakai topeng tentangku. Pun jika terpaksa, itu bukan karena ingin berbohong, tetapi karena aku ingin semua orang menganggap aku normal seperti umumnya. Dan aku hanya ingin mereka mengenalku sebagai orang baik yang ingin berteman dan berbahagia.
Sekelumit kisahku ini, kuharap mewakili di antara ribuan kisah kaum perempuan. Semoga bermanfaat, dan teruslah berbahagia. (*)
Penulis: Irasta (Seorang pengguna TikTok)
















