Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW, Ketika Keteladanan Menjadi Kekuatan

Seni Budaya1098 Dilihat

Al-Qur’an kemudian memberikan sebuah rangkaian prinsip kepemimpinan yang sangat kuat: bersikap lembut, memaafkan, mendoakan, bermusyawarah, mengambil keputusan, lalu bertawakal.

Pesan ini sangat relevan bagi siapa pun yang memimpin organisasi, sekolah, keluarga, komunitas, maupun lembaga. Seorang pemimpin tetap dapat memiliki prinsip yang kuat tanpa harus merendahkan orang lain. Ia dapat mengambil keputusan tegas tanpa kehilangan rasa hormat kepada bawahannya. Ia dapat menegakkan aturan, tanpa menjadikan kekasaran sebagai cara utama dalam memimpin.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya rifq atau kelembutan. Dapat dipahami, orang yang kehilangan kelembutan pada hakikatnya kehilangan bagian dari kebaikan.

Dari sini terlihat bahwa dalam kepemimpinan Rasulullah, manusia tidak dipandang sekadar sebagai alat untuk mencapai tujuan. Mereka adalah individu yang harus dihargai, dibimbing, dan diperlakukan secara bermartabat.

Salah satu karakter penting kepemimpinan Rasulullah SAW lainnya adalah keterbukaan terhadap musyawarah.

Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan Nabi untuk bermusyawarah dengan para sahabat dalam berbagai urusan: “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali Imran: 159). Sementara itu, prinsip urusan yang diselesaikan melalui musyawarah juga disebut dalam QS. Asy-Syura ayat 38.

Hal itu sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (nomor hadis 5128 dalam Sunan Abu Dawud) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah bersabda: “Al-mustasyaru mu’tamanun”  atau “orang yang dimintai pendapat (diajak bermusyawarah) adalah orang yang dipercaya/memikul amanah.”

Prinsip tersebut menunjukkan, meminta pendapat bukan sekadar formalitas. Musyawarah mengandung unsur kepercayaan dan penghargaan terhadap kapasitas orang lain. Seorang pemimpin yang baik tidak merasa bahwa semua jawaban harus berasal dari dirinya. Ia mampu berkata, “Menurut Anda bagaimana?”

Pertanyaan sederhana itu, sesungguhnya dapat mengubah budaya sebuah sosial. Orang-orang merasa didengar. Gagasan dapat muncul dari berbagai arah. Kesalahan dapat dikoreksi sebelum menjadi masalah yang lebih besar.

Namun, musyawarah dalam kepemimpinan Rasulullah bukan berarti pemimpin tidak boleh mengambil keputusan. Justru Al-Qur’an memberikan urutan yang jelas: bermusyawarah, membulatkan tekad, kemudian bertawakal.

Dengan demikian, kepemimpinan Rasulullah mengajarkan keseimbangan antara partisipasi dan ketegasan. Tidak otoriter, tetapi juga tidak ragu-ragu. Tidak merasa paling benar, tetapi tetap berani bertanggung jawab atas keputusan.

Dalam pandangan Islam, kepemimpinan bukan semata-mata kehormatan. Ia adalah amanah. Sebuah hadis dalam Sahih Muslim menjelaskan konsep tanggung jawab melalui gambaran, setiap orang memiliki amanah dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang berada dalam tanggungannya.

Blibli.com
Blibli.com