
WARTA PENDIDIKAN – Sepanjang hidup menjadi praktisi ruqyah syar’iyyah, sudah dua kali penulis bersinggungan dengan circle Nyi Roro Kidul. Pertama, di Blekonang Tepus Gunungkidul Agustus 2014, dan di Sambi Boyolali Maret 2015.
Akhir Agustus di tahun 2014, penulis masih di Candi Borobudur pada jam 16.00 WIB. Saat itu penulis ditelepon dan diminta untuk ke Blekonang Tepus Gunungkidul. Akhirnya setelah mengondisikan keadaan, jam 21.00 tiba di rumah dan jam 22.30 sampai di rumah pasien.
Sebenarnya yang penulis kerjakan selanjutnya, adalah hal-hal yang sifatnya mainstream. Namun hasilnya, di luar perkiraan.
Saat mengahadapi pasien, beberapa kronologi solusi pun penulis berikan. Pasien saat itu adalah seorang perempuan, masih remaja. Sang ibu, saya bantu mencabut marah dan sumpah buruk pada gadis 14 tahun, yang tak lain adalah anaknya.
Saya tetap mengimani hadits sahih tentang jannatul ausaat. Ibu adalah surga bagi anak. Ibu mencabut sumpah buruk pada anak, maka Allah datang menolongnya. Ibu ikrar telah ridha melahirkan si anak, Allah ridha pada anaknya.
Itulah etika pengobatan yang saya bangun. Ustadz Wawan Rongkop tak melahirkannya, maka ibu yang melahirkannya, amat pas didorong menjadi penyelamat utama.
Ketika itu, pasien saya, gadis inisial WW usia 14 tahun, masih SMP. Mengalami demam tinggi, mengigau. Selalu ketakutan, kesurupan. Ia tak mau sekolah.
Saya melihat bapak biologisnya adalah dokter terdekatnya, bukan saya, Wawan Rongkop. Kula punika imam keluarga, Ya Allah. Mbok bilih duka-murka panjenengan untuk saya, awit cubluking pangertosan kula bab halal haram. Kula mangertosi Ya Allah. Kula taubat Ya Allah. Kula nyuwun sih kawelasan paduka. Sasampunipun punika, nyuwun paduka amrih njengkaraken sedaya godha syetan saking jiwa raga lare kula.
Bapaknya saya minta baca ayat kursi tiga kali. Tiup ke tangan. Lalu usap di ubun-ubun anaknya. Inti doa di atas, bila episentrum dosa ada di bapaknya, lalu punishmen di anak, Sang bapak minta ke Allah agar Allah ampuni si bapak. Lalu meminta jin jahat yang ada di tubuh anak, diusir oleh Allah.
Menghadapi doa si ibu, gadis ini teriak kepanasan. Menghadapi ikrar doa si ayah, kedua tangan gadis bergerak secara random. Amat wajar jika tetangga pada datang, walaupun jam 22.45 .
Saya melafazkan adzan berulang kali, para jin tak mau keluar. Sang bapak saya minta duduk pada dua lutut anak . Pamannya, saya minta pijat pada jari manis di kaki. Sang gadis kesakitan dan kepanasan.
Akhirnya jin yang baru datang di raga gadis 14 tahun ini, menyerah kalah. Ayah gadis dan tetangga saya minta membentak dan interogasi. Hasil interogasinya, jin ini datang karena balas dendam, kematian 60 jin ikan. Mereka mengklaim anak buahnya Nyi Roro Kidul.
Sebagai peruqyah, saya baru tahu jika ruqyah jilid satu tadi, menghadapi jin ikan dan total ada 60. Kami semua baru sadar, dua kali ruqyah, ternyata waktu itu kami kedatangan para prajurit Laut Selatan di bawah komando Nyi Roro Kidul. Mereka semua takut bacaan adzan, Ayat Kursi, dan Surat Baqarah.
Kemampuan komunikasi kami dengan para jin di atas, bukanlah sebuah keistimewaan khusus . Semua orang bisa mengerjakannya. Asalkan sanggup membuat mereka menyerah. Pasti kita akan berlimpah info, hasil interogasi.
Tinjauan Antropologi Tentang Kraton Selatan
Semasa Kerajaan Demak dan Pajang, lembaga selevel KSP atau Kantor Staf Presiden ada di tangan ulama kraton bernama Walisanga. Walisanga abad 15 jika dibahasakan hari ini adalah selevel KSP atau Wantimpres. Sejak Dinasti Mataram Islam Kotagede, KSP/Wantimpresnya adalah sosok jin bernama Kanjeng Ratu Kidul. Ini adalah strategi antropologis ala Ki Ageng Juru Mertani.
Dari mana penulis memiliki hipotesis bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah jin? Semua anak buah Kraton Kidul yang memasuki tubuh klien saya, kepanasan saat mendengar adzan, ayat kursi dan sebagainya. Itu kan tipologi jin?
Akan tetapi, Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul itu dua sosok beda. Nyi Roro Kidul itu Nyi Blorong yang menjadi Perdana Menteri Laut Selatan. Sedang owner pemilik Kraton Laut Kidul bernama Kanjeng Ratu Kidul.
Pertemuan saya kedua kali dengan circle Nyi Roro Kidul, saat meruqyah anggota aparat keamanan aktif di Sambi Boyolali.
Ia memiliki satu ruangan khusus untuk bertemu Nyi Roro Kidul. Saya tidak berani menuduhnya mencari pesugihan. Intinya satu, ia sering bertemu Nyi Roro Kidul di ruangan khusus.
Tugas Ustadz Wawan Rongkop saat itu adalah meruqyah tuan rumah dan meruqyah rumahnya. Itu saja. Ruqyah rumah itu sederhana. Baca ayat kursi berkali. Baca Surah Annas, Alfalaq dan Al Ikhlas, masing masing 3 kali. Baca beberapa ayat ruqyah. Tiup ke air. Airnya disemprot ke tiap-tiap sudut ruangan rumah. Selesai.
Ketika itu, saya membaca ayat, saya lemes dan ngantuk. Badan serasa terbakar. Apalagi saat menyemprot air ruqyah. Adapun gejala fisik pasien di Sambi Boyolali itu, mentalnya labil. Ada eksim di sekujur kulit. Karena terlalu lama mengkonsumsi antibiotik, ginjalnya terdampak. Akhirnya pindah dari dokter spesialis kulit ke dokter dalam. Itu yang ia alami, jauh hari sebelum ruqyah syar’iyyah. (*)
Penulis: Wawan Rongkop – Yogyakarta



















