Konten Rumah Pendidikan Bantu Guru Siapkan Pembelajaran

Teknologi1237 Dilihat

JAKARTA – Rumah Pendidikan yang dikembangkan Kemendikdasmen, kini menyediakan sekitar 4.000 sumber belajar yang dapat dipilih guru sesuai kebutuhan kelas.

Namun, tidak semua guru dan murid sudah mengenal platform ini. Kegiatan Sapa Sekolah 2026 di SMA Negeri 80 Jakarta menjadi kesempatan bagi pihak sekolah untuk mengenal dan mencoba langsung layanan yang ada di platform tersebut.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Utara, Iis Budiana, yang membuka kegiatan tersebut, mengatakan transformasi digital bukan semata-mata tentang penggunaan perangkat atau jaringan internet. Teknologi perlu membantu guru mengajar dengan lebih baik dan murid belajar dengan lebih bermakna.

“Keberhasilan digitalisasi pembelajaran bukan diukur dari seberapa banyak aplikasi yang kita gunakan, melainkan dari seberapa besar teknologi tersebut membantu guru mengajar dengan lebih baik dan membantu peserta didik belajar dengan lebih bermakna,” ujar Iis.

Kepala Bidang Tata Kelola Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan Transformasi Digital, Agus Triarso, menjelaskan, Rumah Pendidikan berkembang melalui kontribusi penyedia konten, guru, dan masyarakat.

Sejumlah mitra menyumbangkan materi yang sebelumnya dipasarkan secara komersial, termasuk PesonaEdu dan Assemblr Edu. Guru juga dapat mengajukan video pembelajaran hasil karya sendiri, dengan setiap konten harus melewati proses kurasi sebelum ditayangkan.

“Rumah Pendidikan itu bukan miliknya Pusdatin atau Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saja, tetapi milik semuanya,” kata Agus.

Melalui Sapa Sekolah 2026, Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen mengenalkan pemanfaatan Rumah Pendidikan kepada guru dan murid di lima wilayah DKI Jakarta.

Mengusung tema “Hari Belajar Lebih Menyenangkan dengan Ruang Murid”, kegiatan ini mencakup simulasi rekomendasi pembelajaran bagi guru serta eksplorasi laboratorium maya dan permainan edukasi bagi murid.

Bagi pihak SMA Negeri 80 Jakarta, salah satu kebutuhan yang ingin dijawab adalah keterbatasan waktu guru dalam menyiapkan media ajar. Kepala sekolah, Satya Winarah, menjelaskan sebagian guru memiliki beban mengajar hingga 35 jam pelajaran atau lebih.

Dengan jadwal yang padat, guru membutuhkan pilihan materi yang dapat digunakan tanpa harus selalu membuat media ajar dari awal.

Sekolah tersebut memiliki dua unit IFP yang digunakan bergantian oleh guru. Satya mengatakan perangkat itu dimanfaatkan dalam pembelajaran dari Senin hingga Jumat.

Ia juga ingin guru-guru yang memiliki karya pembelajaran dapat ikut berkontribusi di Rumah Pendidikan sehingga materi mereka berpeluang dimanfaatkan oleh guru dari sekolah lain.

Kebutuhan akan media visual juga dirasakan Turmiati, guru Kimia di SMA Negeri 80 Jakarta. Menurutnya, materi pembelajaran seperti bentuk molekul dan reaksi kimia cukup abstrak sehingga membutuhkan animasi atau ilustrasi untuk membantu murid membayangkan konsep  yang dipelajari.

Selama ini, kata Turmiati, ia lebih sering mencari materi pendukung melalui platform YouTube. Ia berharap konten di Rumah Pendidikan dapat menjadi bahan yang membantu menjelaskan materi tersebut secara tepat, jelas dan terpercaya.(SP)

Blibli.com
Blibli.com