Kisah Ungku Malin Kuniang: Meminta Rezeki Hanya kepada Allah SWT

Seni Budaya64 Dilihat

Pemberian itu tentu sangat berarti bagi keluarga Ungku Malin Kuniang. Dua karung padi tersebut, jika dinilai dengan harga sekarang, diperkirakan bernilai sekitar Rp.500 ribu.

Mendengar perkataan itu, Ungku Malin Kuniang langsung mengucapkan hamdalah.

“Alhamdulillah. Engkau benar-benar Maha Kaya, ya Allah,” ucap beliau dengan penuh rasa syukur.

Hati beliau diliputi rasa haru. Beberapa saat sebelumnya, beliau mengadu kepada Allah SWT tentang kesulitan yang sedang dihadapi keluarganya. Kini, datang seseorang membawa zakat berupa dua karung padi, tepat ketika kebutuhan beras di rumah sedang mendesak.

Beliau menyadari bahwa rezeki dapat datang, melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Orang yang memberikan zakat itu menjadi perantara datangnya pertolongan yang sangat dibutuhkan keluarganya.

Ungku Malin Kuniang pun bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada orang yang telah memberikan zakat tersebut. Beliau tidak melupakan kebaikan manusia, tetapi tetap meyakini bahwa segala rezeki pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.

Pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran berharga, dalam kehidupan Ungku Malin Kuniang. Beliau kerap menyampaikan nasihat kepada murid-muridnya agar selalu menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

“Mintalah apa yang dibutuhkan kepada Allah dan berkabarlah kepada makhluk,” demikian nasihat yang sering beliau sampaikan.

Nasihat itu mengandung makna yang dalam. Ketika menghadapi kesulitan, seorang hamba hendaknya terlebih dahulu mengadu dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Ketika dia berdiri di jendela pagi itu, dia berbisik.  Dan meminta kepada Allah. Bisikannya didengar oleh pintu jendela dan makhluk hidup yang ada di luar sana. Dengan demikian dia telah berkabar kepada makhluk.

Ketika telah menerima rezeki beliau mengajarkan bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada manusia,  yang telah berbuat baik.

Allah SWT disyukuri sebagai sumber segala rezeki, sedangkan manusia dihargai sebagai perantara kebaikan yang datang.

Kisah ini diceritakan Ande Itam di awal orde reformasi, kepada putranya H Ampera Salim. Ande mengulas sikap Ungku Malin Kuniang tentang menjalani hidup.

Ungku Malin Kuniang menjalani hidup tanpa kemewahan, tetapi memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Di tengah keterbatasan ekonomi, beliau tetap mengajar, tetap berdoa, dan tetap menjaga adab kepada sesama.

Bagi beliau, kekayaan bukan semata-mata banyaknya harta yang tersimpan, melainkan juga keteguhan hati untuk tetap percaya kepada Allah ketika keadaan sedang sulit.

Kisah Ungku Malin Kuniang mengingatkan kita bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi jangan sampai kehilangan tempat untuk mengadu.

Ketika rezeki terasa sempit, jangan lekas berputus asa. Berdoalah, bersabarlah, teruslah berusaha, dan syukurilah setiap pertolongan yang datang.

Sebab, terkadang pertolongan yang sangat dibutuhkan, itu hadir melalui jalan yang tidak diduga sebelumnya.

Penulis: H. Ampera Salim (Pimpinan Ponpes Darul Ulum Padang Magek, Rambatan – Tanah Datar)

Blibli.com
Blibli.com