Manfaat Kurikulum Merdeka Dirasakan Guru dan Siswa di SMKN 2 Samarinda

Berita Daerah616 Dilihat

Samarinda – Transformasi pembelajaran melalui implementasi Kurikulum Merdeka mulai dirasakan manfaatnya oleh para guru dan siswa.

Penerapan kurikulum Merdeka seperti asesmen diagnostik, pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, dan sebagainya, berhasil membangun ekosistem belajar siswa yang menyenangkan. Siswa terlatih untuk mengemukakan pendapat, lebih kritis, kreatif, dan termotivasi dalam menyelesaikan setiap tantangan  pembelajaran yang dihadapi.

Penerapan Kurikulum Merdeka juga dirasakan manfaatnya dalam mendorong transformasi di satuan-satuan pendidikan vokasi. Praktik baik dari implementasi Kurikulum Merdeka salah satunya seperti yang dirasakan oleh guru dan siswa di SMKN 2 Samarinda, Kalimantan Timur.

Implementasi Kurikulum Merdeka yang sudah dilaksanakan sejak 2021 lalu, berdampak langsung pada kesiapan siswa baik secara keterampilan teknis (hard skills) maupun keterampilan nonteknis (soft skills) para siswa.

“Kami mulai merasakan transformasi pembelajaran melalui implementasi Kurikulum Merdeka. Perubahan ini tidak hanya berguna bagi siswa, tetapi juga bagi kami para guru,” ujar Guru SMKN 2 Samarinda, Kalimantan Timur, Anugrah Ramadhani dalam acara Press Tour Kemdikbudristek dalam rangka Festival Kurikulum Merdeka, di Kota Samarinda, Selasa (13/6).

Sejak awal masa pembelajaran dimulai, Anugrah dan beberapa guru lainnya biasanya langsung melakukan asesmen diagnostik untuk menggali informasi dan menemukan bakat serta passion siswa dalam belajar. Asesmen diagnostik juga dilakukan agar dapat memetakan kemampuan siswa. Dengan begitu, guru mengetahui kompetensi setiap siswa dan  dapat menyusun metode pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.

“Setiap akhir semester kami akan lakukan gelar karya siswa di mana para siswa akan mempresentasikan hasil proyek yang mereka kerjakan selama proses pembelajaran,” kata Anugrah yang merupakan guru Desain Permodelan dan Informasi Bangunan.

Sepanjang proses pembelajaran, Anugrah juga terus melakukan evaluasi secara berkala. Ia juga  menerapkan  pembelajaran diferensiasi di kelas.

“Misalnya, untuk mata pelajaran dasar-dasar kompetensi konstruksi bangunan, nanti tugas akhir siswa adalah membuat proyek atau karya. Akan tetapi, semua disesuaikan dengan kemampuan mereka, ada yang membuat konstruksi jembatan dari kayu, seperti membuat maket jembatan, ada yang membuat dalam bentuk gambar karena dia suka melukis, dan sebagainya,” ujar Anugrah menjelaskan.

Berbagai implementasi dalam Kurikulum Merdeka tersebut, lanjut Anugrah, membuat anak-anak lebih nyaman dan antusias dalam mengikuti setiap tahapan dan proses pembelajaran. Para siswa juga selalu antusias untuk mengerjakan setiap proyek-proyek yang diberikan, baik tugas secara pribadi maupun kelompok.

“Anak-anak selalu senang karena mereka menjadi pelajar yang benar-benar aktif, tidak ada waktu menganggurnya sama sekali,” kata Anugrah.

Sementara itu, kepala SMKN 2 Samarinda,  Fauzi, menambahkan bahwa transformasi pembelajaran melalui Kurikulum Merdeka di SMKN 2 Samarinda mulai dilakukan sejak 2021. Saat itu, SMKN 2 Samarinda menjadi salah satu SMK Pusat Keunggulan untuk bidang kompetensi Teknik Pengelasan. Dukungan bantuan sarana dan prasarana berupa laboratorium dan perlengkapannya membuat implementasi kurikulum menjadi bisa lebih optimal.

“Memang di awal mungkin sempat ada kesusahan karena memang perubahannya cukup signifikan. Akan tetapi, perlahan kami bisa menyesuaikan meskipun belum sempurna, tapi kami terus berupaya,” kata Fauzi.

Secara bertahap, para guru dituntut untuk  lebih dinamis dalam mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia industri. Fauzi mengatakan, materi ajar juga terus ditingkatkan dan dievaluasi terus menerus agar semakin relevan dengan kesempatan-kesempatan yang tumbuh.

“Dengan beragam perangkat media sosial, Platform Merdeka Mengajar (PMM), pertukaran materi ajar dapat dihimpun dengan mudah. Pengimbasan dari guru-guru penggerak juga terus dilakukan untuk mendorong kreativitas guru  dalam pengayaan materi ajar. Upskilling dan reskilling guru juga terus dilakukan,” ujar Fauzi. (kemdikbud)

Blibli.com
Blibli.com