Menggali Sejarah Padang Luar, Negeri Indah di III Koto

Seni Budaya1304 Dilihat

TANAH DATAR – Di salah satu wilayah yang masuk ke dalam administrasi Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, kaki melangkah pasti menuju kampung halaman seorang sahabat.

Sejak beberapa waktu belakangan, ada sesuatu yang menarik di sana, selain nama tentu juga letaknya yang berhadapan langsung dengan Danau Singkarak. Padang Luar, begitu nama yang diperuntukkan bagi wilayah yang masuk dalam administrasi pemerintahan Nagari III Koto.

Menurut data wilayah Kabupaten Tanah Datar, Nagari III Koto terletak di pada koordinat 00 LS – 310 LS dan 1000 BT- 320 BT. Nagari ini mempunyai luas 25,76 Km2, dan berada pada ketinggian antara 596 meter di atas permukaan laut.

Kenagarian yang berbatas Padang Magek di sebelah utara, di sebelah Selatan dengan Simawang, dan dengan Nagari Tanjung Barulak di sebelah Barat serta Balimbing di bagian Timur, memiliki 10 jorong.

Nama-nama jorong yang bagi penulis masih terdengar baru itu adalah Jorong Kalumpang, Gantiang, Guguak Jambu, Aur Serumpun, Siturah, Panta, Bonai, Pasir Jaya, dan Galogandang serta Turawan. Sepuluh jorong itu dipimpin oleh satu orang Walinagari. Sebagai catatan, Nagari di Sumatera Barat, setara dengan Desa di luar sana.

Ketika dibawa masuk menuju kampung halaman yang disebutkan sahabat penulis itu, ada sesuatu yang tak dapat dijawab olehnya. “Mana yang namanya Padang Luar?”

Menurutnya, Padang Luar adalah bagian dari III Koto. “III Koto itu terdiri dari tiga kewilayahan, Koto Galogandang, Koto Turawan, dan Koto Padang Luar,” jelasnya.

Namun, penulis masih terusik dengan tidak adanya wilayah atau jorong yang bernama Padang Luar. Nomenklatur Padang Luar malah tidak ditemukan sama sekali di dalam wilayah 10 jorong maupun dalam Koto yang disebutkan itu.

Dijelaskannya, Koto Padang Luar itu berada dalam delapan jorong yang ada di Nagari III Koto. “Delapan jorong itu, selain Galogandang dan Turawan. Itu yang disebut Koto Padang Luar,” ujarnya menjelaskan.

Sambil mengerinyitkan dahi, penulis berpikir, nomenklatur Padang Luar yang disebutkan oleh sahabat itu ternyata sudah hilang ditelan zaman. Walaupun dalam kehidupan masyarakatnya masih menyebut diri mereka sebagai orang Padang Luar.

Lokasi rumah gadang Dt. Bungsu Suku Tanjung di Tanah Sirah Panta. Dalam gambar tiga orang tokoh masyarkat Padang Luar. (Foto: Pribadi)

Sesampai di jorong-jorong yang ada itu, penulis pun diajak bertemu dengan sejumlah tokoh. Kami bicara panjang lebar tentang asal usul nama Padang Luar dan luas wilayahnya. Setidaknya ada enam orang tokoh masyarakat, lima di antaranya adalah pemangku adat bergelar Datuk.

Menjelang sore, selesai berkeliling di jorong-jorong itu, penulis menyempatkan bicara serius pada sahabat yang sejak pagi telaten menjelaskan dan menjawab seluruh pertanyaan yang muncul.

Penulis berpendapat, jorong yang disebutkan sebagai wilayah Koto Padang Luar di masa lalu, adalah wilayah potensial dari berbagai sisi. Bukan saja dari alamnya, juga dari sumber daya manusianya yang luar biasa.

“Pasti, daerah kami adalah salah satu wilayah potensial di Tanah Datar. Perantau-perantau kami juga tokoh-tokoh yang berhasil. Ikatan keluarga perantau pun terus memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan daerah. Namun, memang benar, nomenklatur Padang Luar sudah tidak ada lagi dalam tata pemerintahan,” jelasnya antara bangga dan sedikit kecewa.

Sebagai pribadi yang suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan kelangsungan pembangunan daerah, penulis menyampaikan keinginan untuk menyunting naskah sejarah Padang Luar itu.

Keinginan itu ternyata mendapat sambutan hangat. Dan sore hari menjelang Magrib, seorang akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, yang juga tokoh Padang Luar, dipertemukan dengan penulis.

Bincang-bincang terkait keinginan menuliskan sejarah Padang Luar pun makin mengemuka. Tokoh akademik tersebut pun memberikan sejumlah ide dan pendapatnya agar niat itu terlaksana.

Berbekal dukungan dan sambutan hangat itu pun, penulis melanjutkan dengan mencari sejumlah referensi. Di antaranya terkait sejarah yang diketahui oleh para tokoh adat setempat. Dan berbagi versi sejarah Padang Luar itu akhirnya mulai diperoleh. Sungguh luar biasa! (*)

Penulis: Nova Indra (Direktur Pusat Pengkajian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati, Editor in Chief Jurnal Ilmiah Warta Pendidikan, Journalist, Writer, Researcher)

Blibli.com
Blibli.com