
PAYAKUMBUH— Di bawah kubah Masjid Ansharullah Muhammadiyah, riuh rendah perayaan pergantian tahun di luar sana seolah luruh dalam heningnya uraian ayat-ayat Quran dan doa. Malam itu, Rabu (31/12/2025), Pemerintah Kota Payakumbuh menggelar Tausyiah Akhir Tahun, sebuah upaya muhasabah bersama di tengah musibah banjir yang melanda Sumatera Barat.
Hadir dalam barisan terdepan, Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta bersama Wakil Walikota, Elzadaswarman, MPPM, dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala SKPD, serta para Aparatur Sipil Negara (ASN). Di antara jamaah yang memadati ruang utama, tampak pula masyarakat umum yang mencari keteduhan di sela hingar-bingar pergantian tahun.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh, Dr. H. Irwandi Nashir, berdiri di mimbar membawa pesan yang tajam namun menyejukkan. Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi itu dalam tausyiahnya menyampaikan sebuah peringatan keras tentang fenomena sosiologis-spiritual yang ia sebut sebagai “Gelandangan Identitas.”
Sebelum sampai kepada peringkatan akan bahaya menjadi gelandangan identitas, Ustadz Irwandi menjelaskan pertautan antara iZikir dan Tafakur.
Merujuk pada Surah Ali ‘Imran ayat 190-191, Ustadz Irwandi—begitu ia akrab disapa—menguraikan bahwa esensi pergantian waktu seharusnya menjadi jembatan bagi manusia untuk meraih derajat Ulul Albab. Sebuah predikat bagi mereka yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual.
“Ulul Albab adalah pribadi yang qalbunya (hatinya) mengenal dan mencintai Sang Pencipta. Ia menghadirkan Tuhan dalam setiap tarikan napas dan dimensi kehidupannya,” ujar Irwandi di hadapan jamaah yang khidmat menyimak.
Namun, zikir saja tidaklah cukup. Irwandi menekankan pentingnya tafakur—sebuah proses perenungan mendalam terhadap ayat-ayat Allah, nikmat yang melimpah, hingga janji dan ancaman-Nya. Menurutnya, ketika zikir dan tafakur ini hidup berdampingan, manusia akan dianugerahi hikmah.
“Dengan hikmah, kita mampu menyadari bahwa tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia. Apa pun yang terjadi sepanjang tahun 2025, termasuk berbagai musibah yang menyapa, selalu ada rahasia besar di baliknya,” tambahnya.
Bahaya Kehilangan Jati Diri
Inti dari tausyiah malam itu menyasar pada keruntuhan martabat manusia. Irwandi menjelaskan bahwa mereka yang kehilangan hikmah akan terjebak menjadi “gelandangan identitas.” Dalam terminologi Al-Qur’an, kondisi ini merujuk pada kaum munafik—pribadi yang gamang, kehilangan arah, dan tak memiliki pijakan prinsip yang kokoh.
“Di akhirat, mereka ditempatkan di tempat terendah, dan di dunia, martabat mereka jatuh,” tegasnya.
Gelandangan identitas adalah ia yang fisiknya ada, namun ruh dan prinsip hidupnya tercerabut,” tegasnya.
Sebagai jalan keluar (exit strategy) agar tidak terjerumus dalam kondisi tersebut, Irwandi menyitir Surah An-Nisa’ ayat 146. Ia mengajak jamaah untuk menempuh empat langkah transformatif: bertaubat dengan sungguh-sungguh,memperbaiki diri dengan menunjukkan bukti nyata perubahan perilaku; i’tishom, yakni menggantungkan seluruh sandaran hidup hanya kepada Allah, dan ikhlas, memurnikan ketaatan tanpa tendensi duniawi.
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar masyarakat kota Payakumbuh diberikan kekuatan untuk menjalani tahun 2026 dengan identitas keimanan yang lebih kokoh.(IN)



















