Muruah Diri dalam Takaran “Randah Tak Dapek Dilangkahi”

Pojok Irwandi8422 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Bangunan batin manusia memiliki sebuah ruang yang disebut oleh para sufi sebagai maqam (tingkatan ruhani). Meski dalam ilmu psikologi tidak ada satu istilah baku  yang secara persis setara dengan konsep “maqam” dalam tasawuf,    ahli jiwa menyebutnya sebagai tingkat kesadaran diri.

Kesadaran diri manusia untuk menjaga muruah (harga diri)  dalam falsafah Minangkabau dipotret dengan sangat indah namun tegas melalui ungkapan: Randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek kito panjek. Ini bukan sekadar akrobat bahasa dan teka-teki logika, melainkan sebuah pernyataan mendalam tentang kewibawaan yang tidak bersandar pada harta atau jabatan, melainkan pada kekuatan prinsip yang melampaui tampilan fisik.

Randah Tak Dapek Dilangkahi: Martabat dalam Kerendahan Hati

Ungkapan “randah tak dapek dilangkahi” adalah cerminan dari sifat ‘Izzah (kemuliaan diri) yang lahir dari Tawadhu (rendah hati). Seseorang yang sudah merasa kecil di hadapan Allah Ta’ala akan terlihat “rendah” di mata dunia karena ia tidak lagi mengejar pujian atau memamerkan keakuannya. Namun, justru dalam kerendahan itulah terpancar cahaya kebenaran yang membuatnya “tak dapat dilangkahi” atau tidak bisa diinjak-injak harga dirinya.

Ini selaras dengan wahyu Allah Ta’ala: dan rendahkanlah sayapmu  terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Surah Asy-Syu’ara, 26: 215.

Wahyu Allah Ta’ala dalam surah Asy-Syu’ara ayat 215 itu mengandung larangan kepada kita untuk bermental angkuh dan menggantinya dengan  sikap tawadhu (rendah hati), kasih sayang, dan kelembutan terhadap sesama orang beriman, sebagai lawan dari sikap sombong atau angkuh. “Merendahkan sayap” adalah metafora yang indah dalam bahasa Arab yang menggambarkan sikap penuh perhatian, perlindungan, dan kerendahan hati, seperti induk burung yang merendahkan sayapnya untuk anak-anaknya.

Kita tadabburi juga ayat Allah Ta’ala di lembaran surah al-Furqan, 25:63 ini:  Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Apabila ada orang bodoh berkata tidak baik kepada mereka, mereka hanya mengatakan: ” Selamat tinggal, aku tidak ada urusan dengan kamu! (QS. Al-Furqan: 63).

Mereka yang menghambakan diri dihadapan Allah Ta;ala Adalah orang yang menjadikan kerendahan hati sebagai Kompas dalam berjalan. Mereka tidak angkuh dan tutur kata mereka selalu “merendah” dalam makna lembut dan santun. Batin mereka kokoh dari godaan mudah menepuk dada sebagai simbol keangkuhan.  Kewibawaan mereka bukan bukan dimunculkan dengan cara dibuat-buat, penih kamuflase, tapi murni pancaran dari hati yang dibalut Cahaya tawadhu’.

Blibli.com
Blibli.com