
Dalam pergaulan, sikap ini adalah perwujudan sikap tegas. Orang yang ramah sering dianggap lemah, namun individu yang sehat secara mental memiliki batasan (boundaries) yang jelas. Mereka tahu kapan harus berkata “tidak” sehingga tidak bisa dimanipulasi.
Tinggi ndak dapek Dipanjek (Tinggi tak dapat dipanjat)
Sebaliknya, ketika ia berada di posisi “tinggi”, ia tidak bisa “dipanjat” oleh keinginan berkuasa atau rayuan duniawi, karena ia sadar bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Tinggi. Ungkapan ini berkaitan erat dengan kemampuan seseorang untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah tekanan lingkungan.
Ungkapan “tinggi ndak dapek dipanjek” bermakna diri yang punya prinsip dan selalu menjaga muruah (harga diri). Karena itu, ia tidak akan bisa menjadi “tangga” bagi orang-orang yang ingin mencari keuntungan pribadi dengan cara curang. Ini mencegah munculnya para penjilat.
Dalam menjaga batas-batas ini, masyarakat Minang sering menggunakan sindiran halus sebagai control diri dan pengingat diri untuk sesama. Sindiran ini bukan untuk menghina, melainkan pengingat psikologis bagi mereka yang mencoba “melangkahi” atau “memanjat” aturan. Ini adalah cara baik untuk menegakkan harga diri tanpa harus menghancurkan harmoni sosial.
Memeriksa Keseharian Kita
Mari kita lihat contoh nyata. Bayangkan seorang pemimpin masyarakat yang hidup sederhana, sering duduk berbaur dengan warga di kedai kopi. Ia tampak “rendah”.
Namun, ketika ada pihak yang ingin menyuapnya untuk mengubah batas tanah ulayat, ia dengan tegas menolak. Di sanalah ia membuktikan diri “tak dapat dilangkahi”.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang sangat relevan:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya.” (Hadits Riwayat Muslim).
Ungkapan ini juga ditujukan untuk membentuk kepribadian yang berwibawa. Membangun kepribadian sesuai ungkapan ini berarti menyatukan dua sisi kehidupan: Keyakinan Batin dan Sikap Sosial.
Ungkapan berhikmah dari bumi Minangkabau ini mengajarkan pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala agar tidak haus akan pengakuan manusia dan tidak mabuk saat memegang jabatan. Secara sosial, ungkapan ini berpesan untuk membangun kecerdasan emosi untuk tahu kapan harus bersikap lembut sebagai pelayan masyarakat, dan kapan harus bersikap keras sebagai penjaga aturan.
Seseorang yang memegang nilai-randah ndak dapek dilangkahi, tinggi ndak dapek dipanjek- akan menjadi pribadi yang selalu berbuat secara patut dan wajar (proporsional).
Ia tidak angkuh sehingga orang tidak segan mendekat, namun ia tidak murahan sehingga orang tidak berani meremehkan. Inilah puncak dari akhlak manusia: menjadi pembela kebenaran yang disegani tanpa harus menjadi sosok yang ditakuti.(*)
Dr. Irwandi Nashir (Pegiat Kajian Filsafat Minangkabau/Dosen UIN Bukittinggi)



















