Kisahku, Tak Pernah Bertemu Orangtua Sejak Kecil Hingga Kini Jadi Seorang Ibu

Kisah889 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Perjalanan hidup setiap manusia, dipastikan berbeda satu sama lain. Ada kisah sedih, kecewa, penderitaan, dan di sisi lain secara bersamaan juga ada cerita bahagia, tawa dan canda, serta segala pernak-pernik kehidupan yang mengalir di dalamnya.

Dan kali ini, sebuah kisah hidup seorang anak manusia yang membuat setiap orang akan menyeka airmata ketika membawanya ke dalam diri sendiri. Kisah di mana aku adalah anak yang tidak pernah mengenali siapa ayah dan ibuku sejak aku dilahirkan.

Entah tersebab apa, mereka tidak pernah kutemui saat aku mulai mengenali dunia ini. Apakah mereka telah tiada, atau karena aku adalah anak yang tidak diharapkan lahir ke dunia ini. Hingga saat ini, saat aku menceritakan semua kisah hidupku, semua itu masih abu-abu dalam benakku.

Kini, aku adalah seorang perempuan berstatus istri dan ibu dari anak-anakku. Hingga menjelang aku menikah, aku adalah remaja yang hidup bersama keluarga angkat. Aku menjadi dewasa tanpa kedua orang tua kandung. Aku bersyukur, orang tua angkatku merawatku dengan baik hingga aku dewasa.

Bagiku, perjalanan hidup yang terasa getir tanpa kedua orang tuaku, adalah perjalanan panjang yang hingga saat ini membekas begitu dalam. Setiap mengingatnya, bahkan saat buah hatiku dalam pelukanku pun, rasa sedih itu tetap saja menyebar dan mengalirkan air hangat di kedua mataku.

Namun, sejak aku menikah dengan seorang laki-laki dari daerah yang sama denganku, hidupku telah berubah. Kini, kenyataan hidup yang aku jalani adalah tugas dan tanggungjawab sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anakku.

Di awal menikah, aku menetap di kediaman keluarga mertuaku. Kini, hanya mertua laki-lakiku yang masih hidup. Sehari-hari beliau adalah seorang pedagang keliling di daerah tempatku tinggal.

Suamiku adalah seorang laki-laki ulet yang bekerja di barbershop. Pekerjaan itu telah lama ia tekuni untuk menghidupi kami sekeluarga. Aku sangat bersyukur memiliki seorang imam yang tangguh dan selalu bekerja keras demi tanggngjawabnya pada kami sekelurga.

Sementara itu, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Sepanjang hari, pekerjaan rutinku adalah merawat anakku, dan menyelesaikan urusan dapur serta cucian. Suamiku pun sangat mengerti bagaimana aku yang kadang merasa lelah dengan keseharianku di rumah. Aku bangga padanya.

Selesai ngerjain pekerjaan rumah, aku pun bermain media sosial. Sekadar mencari hiburan dan pertemanan. Itu membuatku menjadi sedikit terhibur.

Namun, kebahagiaan itu, tidak selalu mulus kujalani bersama suami dan anakku. Karena kami tinggal di rumah mertua, kalian pun pasti tahu, banyak masalah yang bisa saja muncul dari ketidaksesuaian antara keluargaku dan mertua.

Saat anakku rewel pun, mertuaku bisa tiba-tiba marah dengan kata-kata yang pedes. Dan itu aku alami di keseharianku. Aku lalui itu dengan kesabaran, tanpa pernah membicarakannya dengan suami. Karena aku tahu, suamiku juga pasti kecapean seharian bekerja mencari nafkah untuk kami.

Persoalan di rumah, yang datang dari ketidakcocokan dengan mertua, turut pula jadi santapanku sehari-hari. Bagiku, beliau adalah mertua yang sudah jadi orangtua bagiku. Tentunya aku sebagai anak pun harus menghormatinya dengan cara yang baik.

Tetapi, kadang rasa jengah dengan semua keadaan itu juga membuatku sedikit tertekan. Apakah ini akan terus aku jalani sepanjang hidupku sambil terus merawat anakku hingga dewasa nanti?

Semoga suatu ketika nanti, Tuhan pun akan memberiku kesempatan bersama keluarga kecilku untuk bahagia hingga akhir hayat kami. Aku ingin melihat anakku tumbuh dewasa dan berhasil menjadi orang sukses kelak.

Dan satu hal lagi, bagaimanapun keadaannya kini, aku masih menginginkan bertemu kedua orang tuaku. Semoga mereka masih ada, dan mau berjumpa dengan anaknya yang tumbuh tanpa kasih sayang mereka. (*)

Dikisahkan oleh seorang user TikTok, dan dinarasikan ulang oleh d’

Blibli.com
Blibli.com