Membaca Nyaring untuk Anak, Upaya Bangun Kebiasaan Literasi Sejak Dini

Seni Budaya6576 Dilihat

JAKARTA – Kebiasaan membacakan buku dengan suara keras kepada anak ternyata menyimpan manfaat besar, mulai dari melatih kemampuan menyimak, memperkaya kosakata, hingga menumbuhkan rasa cinta terhadap buku sejak dini.

Keyakinan itulah yang mendorong Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen menggelar Lokakarya Membaca Nyaring, Rabu (13/5) lalu di Jakarta.

Lokakarya diikuti 130 peserta dari 31 sekolah TK dan SD di Jakarta, terdiri dari guru, koordinator kelas, dan perwakilan orang tua.

Kegiatan itu mengangkat tema “Membaca Buku Menumbuhkan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Buku Nasional 2026.

Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai relevan dengan kondisi literasi nasional saat ini.

Menurutnya, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia menjadi perhatian bersama, terlebih di tengah tingginya penggunaan gawai pada anak-anak.

“Kita seperti menjadi korban teknologi. Penggunaan gawai sudah luar biasa, bahkan bisa mencapai 6-7 jam per hari dan termasuk tertinggi di dunia. Karena itu sangat relevan ketika hari ini kita membangun budaya senang membaca, terutama kepada anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, kebiasaan membaca pada anak adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda.

“Anak-anak yang tumbuh bersama buku akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih terbuka, rasa ingin tahu yang lebih tinggi, serta kemampuan berkomunikasi dan berempati yang lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, budaya membaca tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Anak perlu didampingi, diberikan contoh, dan diciptakan suasana yang menyenangkan agar mereka mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian.

Masmidah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk menjadikan budaya literasi menjadi gerakan bersama.

“Mari kita jadikan gerakan literasi sebagai gerakan bersama. Hadirkan lebih banyak ruang membaca, lebih banyak cerita untuk anak-anak, dan lebih banyak waktu untuk mendampingi mereka mengenal dunia melalui buku,” imbuhnya.

Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Muhammad Yusro, menambahkan, pembiasaan membaca menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kemampuan anak dalam memahami informasi dan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi digital.

“Di tengah perkembangan teknologi digital dan beragam distraksi yang ada, minat membaca perlu terus ditumbuhkan melalui pendekatan yang kreatif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak,” ujarnya.

Ia juga mengajak orang tua dan guru untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai rutinitas sehari-hari karena perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama anak-anak.

“Luangkan waktu untuk membaca bersama anak-anak, karena dari kebiasaan kecil itulah akan lahir perubahan besar,” sebutnya. (SP)

Blibli.com
Blibli.com