Teknologi Masuk Kelas, Pentingnya Menjaga Kreativitas dan Kesehatan Mental Murid

Berita Nasional2336 Dilihat

MALANG – Di tengah semakin masifnya digitalisasi pendidikan, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menawarkan sudut pandang berbeda.

Alih-alih mendorong penggunaan teknologi tanpa batas, ia justru menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan perangkat digital dan tradisi belajar yang menurutnya mampu mendukung tumbuh kembang murid.

Fajar menyampaikan, transformasi digital bukan hanya menghadirkan perangkat canggih ke sekolah. Lebih dari itu, teknologi harus digunakan secara bijak agar tidak mengganggu perkembangan kognitif, kreativitas, maupun kesehatan mental peserta didik.

Di berbagai sekolah, pemerintah telah menghadirkan Interactive Flat Panel (IFP) yang mendukung pembelajaran modern. Namun, Fajar mengingatkan, kehadiran teknologi tidak boleh membuat murid menjadi pasif atau mengurangi peran guru sebagai fasilitator pembelajaran.

“Jangan sampai murid kehilangan daya kreativitasnya, guru kehilangan inovasinya. Kalau seperti itu, maka IFP telah menggantikan peran-peran pedagogis guru, dan itu adalah satu musibah,” tegasnya di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Jawa Timur baru-baru ini.

Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan baru berkat perkembangan teknologi yang pesat. Selain membuka akses informasi yang luas, teknologi juga membawa risiko seperti menurunnya fokus belajar, kecemasan, hingga fenomena brain rot akibat paparan gawai yang berlebihan.

Kemendikdasmen mendorong pendekatan yang lebih seimbang. Melalui transformasi pedagogis berbasis Deep Learning, pengalaman belajar murid ditempatkan sebagai pusat proses pembelajaran. Di saat yang sama, kebiasaan menulis manual tetap dipertahankan melalui penyediaan buku tulis untuk membantu menstimulasi kemampuan motorik halus dan proses berpikir yang lebih mendalam.

Komitmen tersebut dirasakan langsung oleh para guru yang mengikuti pelatihan Digitalisasi Pembelajaran. Salah satunya adalah Ari, guru PPKn, Desain Komunikasi Visual, dan Informatika dari SMK Industri Mojokerto.

Selama pelatihan, Ari menemukan berbagai fitur yang sebelumnya belum pernah dimanfaatkan secara optimal di perangkat sekolahnya.

“Hal barunya ya fitur-fitur itu. Fitur-fitur yang sebelumnya tersembunyi seperti penggunaan kamera ternyata bisa 4K, itu kan harus di-setting manual,” ujarnya antusias.(SP)

Blibli.com
Blibli.com