Bedah Buku Jakarta 1998, Wamendikdasmen Dorong Penguatan Budaya Akademik dan Literasi

Literasi2197 Dilihat

JAKARTA – Bedah Buku Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie (Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru) yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) digelar baru-baru ini.

Kegiatan tersebut dibuka Wamendikdasmen Atip Latipulhayat. Berlangsung di Auditorium FPIPS UPI, bedah buku itu menjadi ruang akademik untuk mengkaji kembali salah satu periode penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Melalui kegiatan ini, sivitas akademika diajak untuk melihat peristiwa 1998 tidak hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran bagi generasi masa kini.

Forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik, budaya membaca, dan kemampuan berpikir kritis di lingkungan perguruan tinggi.

Buku Jakarta 1998 mengangkat berbagai dinamika yang terjadi pada masa peralihan pemerintahan dari Presiden Soeharto kepada Presiden B.J. Habibie. Sejumlah peristiwa penting dibahas dalam buku tersebut, mulai dari krisis ekonomi dan moneter, Tragedi Trisakti, gerakan mahasiswa, hingga berakhirnya pemerintahan Orde Baru.

Pengkajian terhadap rangkaian peristiwa tersebut menjadi penting karena perubahan yang terjadi pada 1998 turut membentuk kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia hingga saat ini.

Oleh karena itu, bedah buku menjadi ruang yang relevan untuk mempertemukan pengetahuan sejarah dengan perspektif akademik dan pengalaman generasi yang mengalaminya secara langsung.

Dalam sambutannya, Wamen Atip menyampaikan, buku Jakarta 1998 memberikan gambaran mengenai fakta-fakta yang terjadi pada salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia.

Menurutnya, krisis yang pada awalnya terjadi di kawasan Asia turut memberikan dampak yang besar terhadap Indonesia. Kondisi tersebut antara lain ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan munculnya berbagai gerakan sosial sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang terjadi.

“Thailand adalah negara pertama yang terimbas krisis pada 1998 dan tidak lama berimbas ke Indonesia. Saat itu muncul gerakan untuk mencintai produk dalam negeri dan nilai tukar dolar ke rupiah melambung ke angka tertinggi,” ujarnya.

Menurut Wamen Atip, memahami sejarah membutuhkan kemampuan untuk membaca fakta dan berbagai sumber pengetahuan secara kritis.

Literasi, dalam konteks tersebut, tidak berhenti pada kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga mencakup kemampuan menempatkan informasi dalam konteks sejarah yang tepat.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting bagi generasi muda yang tidak mengalami secara langsung berbagai peristiwa yang terjadi pada 1998. Dengan membaca dan mendiskusikan berbagai sumber, mahasiswa dapat membangun pemahaman yang lebih utuh sekaligus melihat keterkaitan antara peristiwa masa lalu dengan persoalan yang dihadapi bangsa saat ini.

Blibli.com
Blibli.com