Abdul Mu’ti: “Keteladanan Guru Menjadi Kunci Budaya Sekolah Aman dan Nyaman”

Berita Nasional2350 Dilihat

JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa guru memiliki peran sebagai “Agent of Learning as well as Agent of Civilization”, yakni agen pembelajaran sekaligus agen pembangunan peradaban.

Melalui keteladanan, guru membantu murid membangun karakter dan belajar saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. “Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya dalam webinar internasional yang diselenggarakan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen bersama Institut Leimena, baru-baru ini dalam rangka menyambut Hari Guru Sedunia dan Hari Guru Nasional.

Menurut Mendikdasmen, sekolah perlu menjadi ruang perjumpaan bagi murid dengan beragam latar belakang. Di dalamnya, murid memperoleh kesempatan untuk mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan mereka yang berbeda.

Ia menyebut pentingnya toleransi yang otentik, yaitu tetap teguh pada keyakinan masing-masing sekaligus mampu menghargai dan memberi ruang kepada orang lain.

“Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” tuturnya.

Mu’ti juga menekankan, lingkungan yang aman dan nyaman mencakup dimensi fisik, sosial, spiritual, dan digital.

Penguatannya membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, serta media karena pengalaman anak di luar sekolah turut memengaruhi perilaku dan pembentukan karakternya.

Pesan tersebut sejalan dengan penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026.

Kebijakan itu menempatkan pencegahan dan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid.

Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, menegaskan murid bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga perlu dilibatkan sebagai bagian aktif dalam membangun budaya sekolah aman dan nyaman.

Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, murid didorong menjadi Sahabat Hebat yang saling mendukung dengan prinsip Look, Listen, dan Link. Peka melihat teman yang membutuhkan dukungan, mendengarkan, dan menghubungkannya dengan bantuan yang tepat.

“Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.

Peran guru dalam membangun hubungan antarmanusia juga disampaikan Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ia menekankan pentingnya pendidikan yang membantu murid menjalin relasi dengan sesama, termasuk mereka yang berbeda agama, kepercayaan, dan budaya.

“Kita bukan mendidik robot, tapi manusia,” ujar Matius.

Blibli.com
Blibli.com