Kisah Ungku Malin Kuniang: Meminta Rezeki Hanya kepada Allah SWT

Seni Budaya63 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Suatu ketika di masa orde lama. Di tengah kesulitan hidup, Tuanku Salim Malin Kuniang, pendiri  Ponpes Darul Ulum Padang Magek, mengajarkan, manusia hendaknya meminta kepada Allah SWT, bersabar terhadap sesama, serta selalu bersyukur atas setiap rezeki yang datang.

Pagi itu, suasana rumah Ungku Malin Kuniang terasa berbeda. Andeh Itam, istri beliau, menyampaikan kabar yang cukup berat. Beras yang seharusnya dibeli untuk kebutuhan keluarga hari itu sudah tidak ada. Uang untuk membeli beras pun tak tersedia.

“Ungku, beras yang akan kita masak hari ini tidak ada lagi. Uang untuk membelinya juga tidak ada. Apa yang akan kita makan bersama anak-anak hari ini?” tanya Andeh Itam dengan penuh kecemasan.

Ungku Malin Kuniang terdiam. Beliau tidak segera menjawab. Bukan karena tidak memikirkan nasib keluarganya, melainkan karena memang tidak ada persiapan untuk menghadapi keadaan tersebut.

Sakunya kosong, simpanan tidak punya, sementara kebutuhan keluarga harus tetap dipenuhi.

Maklum, keseharian beliau hanyalah mengajar mengaji di surau. Pekerjaan mulia itu dijalani tanpa mengharapkan gaji. Mengajarkan ilmu agama merupakan pengabdian, yang telah melekat dalam hidupnya sejak lama.

Sejak menuntut ilmu di Singkarak, Salayo, Tanjuang Balik hingga Saruaso, beliau sudah terbiasa hidup sederhana.

Kesederhanaan itu bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin dalam seluruh perjalanan hidupnya. Sampai usia tua, pakaian beliau hanya tiga stel. Tidak ada jam tangan, tidak pula cincin permata yang menghiasi jari-jarinya. Hanya sebuah cincin besi putih yang tampak di jari manisnya.

Bagi Ungku Malin Kuniang, kemuliaan seseorang bukan terletak pada pakaian, perhiasan, atau banyaknya harta yang dimiliki. Baginya, mengabdi kepada Allah SWT dan mengajarkan ilmu agama jauh lebih utama daripada mengejar kemewahan dunia.

Pagi itu, setelah mendengar keluhan Andeh Itam, Ungku Malin Kuniang berdiri di dekat jendela rumahnya. Dalam kesunyian, beliau mengadu kepada Allah SWT. Tidak ada tempat lain yang dituju, tidak ada sandaran lain yang diharapkan selain Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki.

Dengan penuh kerendahan hati, beliau berkata seorang diri: “Ya Allah, pekerjaan hamba hanya mengajar mengaji. Pagi ini keluarga hamba menghadapi kesulitan. Beras tidak ada, uang untuk membelinya pun tidak ada. Bagaimana keluarga hamba akan makan hari ini? Tunjukkanlah kepada hamba, bahwa Engkau benar-benar Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki.”

Doa itu lahir dari hati seorang hamba, yang sedang menghadapi kesulitan, tetapi tidak kehilangan keyakinan kepada Tuhannya.

Beliau tidak berputus asa. Setelah mengadu kepada Allah SWT, Ungku Malin Kuniang bersiap pergi mengajar ke surau yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumahnya.

Walaupun persoalan beras dan makanan keluarga belum terjawab, kewajibannya mengajarkan ilmu agama tetap harus dilaksanakan. Kesulitan hidup tidak membuat beliau meninggalkan pengabdian.

Di tengah perjalanan menuju surau, tiba-tiba seseorang memanggil beliau. “Ungku, Ungku! Sejak kemarin saya menunggu Ungku lewat. Saya hendak memberikan zakat dua karung padi kepada Ungku,” kata orang tersebut.

Blibli.com
Blibli.com