oleh

Dirjen PAUDDASMEN Tekankan Pentingnya Upaya Memutus Rantai Kekerasan di Dunia Pendidikan

WPdotCOM, Jakarta – Penguatan karakter menjadi kunci utama untuk menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan di abad ke-21.

Nilai-nilai tersebut harus tertanam di lingkungan satuan pendidikan, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP yang menjadi fondasi awal dalam pembentukan karakter. Inilah yang melatarbelakangi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat SMP melaksanakan kegiatan Antisipasi Tindak Kekerasan Peserta Didik Jenjang SMP.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, (Dirjen PAUDDASMEN) Kemdikbud, Jumeri mengatakan, kegiatan ini bisa menjadi titik awal peningkatan karakter untuk menciptakan siswa SMP yang berkarakter, berakhlakul karimah, dan berkepribadian baik.

“Karena individu yang baik hanya bisa diperoleh dari lingkungan yang baik,” ucapnya saat membuka kegiatan Antisipasi Tindak Kekerasan Peserta Didik Jenjang SMP Angkatan III yang berlangsung secara virtual di Jakarta, Selasa (15/9).

Lebih lanjut Jumeri menyampaikan, ada tiga aspek yang membentuk karakter seseorang. Pertama, keluarga atau rumah yang memberi pengaruh sangat besar yaitu 60%. Kedua, satuan pendidikan yang memberi pengaruh sebesar 25-30%. Ketiga, masyarakat yang memberi pengaruh sebesar 10-15%.

Tripusat pendidikan tersebut mempengaruhi pembinaan karakter peserta didik sehingga harus mendapat perhatian. Jumeri menekankan perlunya kolaborasi semua warga pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang baik tersebut.

“Masing-masing aspek mempengaruhi satu sama lainnya. Pada aspek pertama dan kedua kita masih bisa kendalikan, tapi kalau di level masyarakat akan sulit,” imbuhnya.

Jumeri mengatakan, upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah dan mengatasi tindak kekerasan adalah dengan selalu berpikir dan bertindak positif. “Kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan,” pesannya.

Untuk mencegah tindak kekerasan, Jumeri mendorong semua pihak menggalakkan berbagai kegiatan edukatif seperti menyiapkan program sekolah yang ramah anak, menyenangkan, dan model pembelajaran yang mengarah pada pembinaan karakter peserta didik. Begitu pula dengan meningkatkan fasilitas sekolah yang dapat memonitor seluruh sudut sekolah dengan baik. “Sudut sekolah yang tidak terlihat seperti kamar mandi, rawan menjadi tempat tindak kekerasan,” ungkapnya.
Selanjutnya, menggiatkan program yang mampu meningkatkan pemahaman tentang persaudaraan, hati nurani, toleransi, ketulusan, dan kejujuran seperti ekstrakurikuler, dan kegiatan lain yang positif. Dan yang paling penting, melibatkan orang tua dalam memecahkan problematika pembelajaran. “Jangan sampai ada pandangan kalau orang tua diundang ke sekolah hanya karena masalah uang atau karena putra-putrinya ada kasus di sekolah,” ucap Jumeri.

Baca Juga:  Muhammadiyah Terbitkan Maklumat, Muslim Indonesia Bersiap Masuki Bulan Puasa

Adanya interaksi antara orang tua dengan sekolah, memungkinkan kedua belah pihak mengenal dan memahami karakter dan potensi anak sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai khususnya di tengah pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti sekarang. “Adakan pertemuan bulanan berupa kelas parenting secara berkala. Di forum itu guru dan orang tua saling bertukar informasi tentang kegiatan sekolah, kendala belajar hingga kondisi peserta didik di rumah,” jelas Jumeri.

Di akhir sambutannya, Dirjen PAUDDASMEN mengajak orang tua, tenaga pendidik dan para pemangku kepentingan untuk menjadi teladan bagi peserta didik. Ia yakin, saat keluarga dan satuan pendidikan mampu mempraktikkan keluhuran budi pekerti, maka anak-anak akan mudah untuk mencontoh. Hal itu pula yang akan menjadi bekal bagi anak-anak menghadapi tantangan di masyarakat. “Itu yang dibutuhkan,” tekan Jumeri.

“Selanjutnya, kepada anak-anak, jadilah agen anti kekerasan di sekolah, tunjukan prestasi kalian, kesantunan, kerapihan, dan budi pekerti pada orang lain. Nanti orang lain juga akan menghargai kita dan akan berpikir seribu kali sebelum melakukan kekerasan. Bergaulah dalam lingkungan yang mengajak kalian berbuat baik. Bentengi diri kalian dengan ilmu yang bermanfaat agar kalian bisa memberi ‘warna’ bagi lingkungan sekitar,” demikian pesan Dirjen Jumeri untuk generasi muda yang akan melanjutkan tongkat estafet bangsa di masa depan. (SP)