Nasib Perempuan Lembata yang Kian Terancam

Berita Daerah991 Dilihat

Nurhayati Kasman dalam closing statementnya mengatakan, saat ini fokus aliansi perjuangan hak kaum perempuan hendaknya pada bagaimana mengajak kawan-kawan di setiap LSM di Lembata untuk kembali mengaktifkan program-program kerja yang menjadi prioritas lembaga kerja di Lembata. Karena menurutnya, kesusksesan kita dalam dunia gerakan akan sangat terasa dampaknya ketika aliansi yang kita bangun bekerja efektif dalam pendampingan isu-isu di setiap gerakan.

Solidaritas Perempuan Indonesi menurutnya, masih dalam perkenalan bagaimana mencari mitra atau partner di NTT khususnya di Lembata. Dengan berfokus pada 4 (empat) isu besar yang sudah digambarkan. Empat isu tersebut hendaknya menjadi prioritas untuk dilaksanakan di Lembata.

“Sebagai pengacara, saya mengajak teman-teman agar bergabung dengan LBH SIKAP,” katanya. Ia mengatakan ruang edukasi umum kepada masyarakat akar rumput atau yang termarginalkan karena kurang mendapat sentuhan pendampingan mesti dibuka seluas-luasnya.

Diskusi berlangsung dari kanan ke kiri, Dominikus Karangora (Aktivis WALHI NTT), Hana Pertiwi Witak (Relawan Taman Daun Lembata), Nefi Eken (Komunitas Peduli HIV/AIDS NTT-Lembata), Maria Loka (Ketua LSM PERMATA Lembata).

Di akhir diskusi, Maria Loka mengatakan, sangat bersykur karena walaupun dalam jumlah terbatas tetapi bisa sharing dalam suasana saling berbagi sangat terasa. Selain itu, lanjutnya, diskusi yang digagasnya membuka ruang bagi terjaringnya informasi. “Kita perlu mendapatkan informasi yang jelas agar ketika kaum perempuan mengalami kekerasan, mereka bisa mengetahui dan paham jalur pengaduannya dan bagaimana cara atau strategi menanganinya,” ujarnya.

Perempuan jebolan sarjana Pastoral STP Reinha Larantuka mengungkapkan, melalui diskusi ada banyak masukan berharga yang didapatkan.  “Informasi dari LBH SIKAP menjadi salah satu referensi bagi kita semua,” tegasnya. Ia mengatakan, saat ini kekerasan terhadap perempuan di dalam keluarga juga terhadap anak-anak hampir terjadi setiap hari tetapi lebih banyak ditutupi karena tidak tahu bagaimana menangani dan kepada siapa harus mengadu.

“Sebuah langkah awal yang baik telah kita mulai bersama Diskusi berikutnya mungkin teman-teman perempuan yang lainnya diharapkan bisa hadir. Berdiskusi bersama sebagai kekuatan untuk perempuan karena persoalan perempuan hanya bisa dapat di selesaikan oleh perempuan sendiri,” pungkasnya.

Peserta lainnya yang hadir seperti Adriana Banguhari dari LSM Permata, Nefi Eken dari Komunitas Peduli HIV/AIDS NTT-Lembata, Hana Pertiwi Witak dari relawan Taman Daun, Maria Leman korban KDRT, Dominikus Karangora dari WALHI NTT dan Albertus Muda selaku penyuluh Non PNS Kabupaten Lembata pun memiliki pendapat kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan sebelumnya. (AM)

 

Blibli.com
Blibli.com